SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Asap menggantung pekat di langit Sampit, Rabu sore, 14 Oktober 2026. Dari Jalan Tjilik Riwut menuju Kota Besi, pandangan perlahan tertutup kabut asap yang menyelimuti perjalanan. Di balik udara yang menyesakkan itu, sebuah misi penyelamatan satwa liar menanti di kawasan hutan yang telah dilalap kebakaran.

Sore itu, perjalanan bukan sekadar menembus asap. Ada satu individu orangutan yang harus diselamatkan sebelum malam semakin larut. Ia ditemukan di kawasan bekas terbakar, di tengah habitat yang tak lagi ramah untuknya.

Perjalanan menuju lokasi penyelamatan tidak mudah. Kami menunggu kedatangan tim penyelamat dari Pangkalan Bun di sebuah gang kecil yang terhubung dengan titian kayu. Jalan masuknya sempit, dengan medan yang tidak rata. Di kejauhan, kawasan hutan yang menjadi tempat kemunculan orangutan itu masih menyimpan jejak kebakaran.

Sejak pagi, Komandan BKSDA Pos Sampit, Muriansyah, bersama sejumlah warga telah memantau pergerakan orangutan tersebut. Mereka memastikan keberadaannya tetap terpantau sembari menunggu tim penyelamat tiba.

Sekitar pukul 18.30 WIB, tim dari Yayasan Orangutan Foundation International (OFI) akhirnya datang. Tanpa banyak waktu terbuang, rombongan segera bergerak menuju lokasi dengan mengendarai sepeda motor. Perjalanan dipandu oleh aktivis lingkungan Sampit yang memahami jalur menuju kawasan tersebut.

Semakin jauh masuk ke dalam, jalan semakin sulit dilalui. Rombongan harus berhati-hati melewati jalur sempit dan medan terjal.

Sepeda motor akhirnya berhenti di ujung jalan. Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki, menyusuri jalur yang gelap dan tidak rata hingga tiba di titik keberadaan orangutan. Di sana, penyelamatan yang sesungguhnya dimulai.

Orangutan itu berada di atas pohon dengan ketinggian sekitar 10 meter dari tanah. Ranting-ranting yang rimbun menyulitkan petugas untuk mendapatkan posisi pembiusan yang aman. Sementara itu, kondisi sekitar jauh dari ideal. Tanah tidak sepenuhnya datar, tunggul-tunggul akar kayu berserakan, dan sisa-sisa kebakaran membatasi ruang gerak tim.

Penerangan pun minim. Setiap langkah harus diperhitungkan agar tidak membahayakan petugas maupun orangutan yang hendak diselamatkan.

Muriansyah beberapa kali memukul batang pohon. Bukan untuk melukai, melainkan membuat orangutan berpindah ke bagian pohon yang lebih mudah dijangkau petugas penembak bius.

Upaya itu dilakukan dengan hati-hati. Orangutan yang ketakutan bisa bergerak sewaktu-waktu, sementara posisi di ketinggian membuat proses penyelamatan semakin berisiko.

Setelah beberapa kali upaya, petugas akhirnya berhasil melepaskan satu dosis obat bius ke tubuh orangutan tersebut.

Meski telah terkena bius, orangutan itu tidak kunjung jatuh. Tubuhnya masih tertahan di antara ranting-ranting pohon. Petugas harus mencari cara agar ia dapat diturunkan tanpa mengalami cedera akibat jatuh dari ketinggian.

Seorang petugas kemudian memanjat pohon dan menggerakkan ranting yang menopang tubuhnya. Di bawah, jaring telah disiapkan untuk menyambut tubuh orangutan itu. Hingga akhirnya, sekitar pukul 19.15 WIB, orangutan itu terlepas dari pohon dan jatuh tepat ke jaring yang telah disiapkan tim.

Namun, tugas tim belum selesai. Tubuhnya harus dibawa keluar dari kawasan bekas terbakar dengan berjalan kaki, kemudian diangkut menggunakan sepeda motor melewati jalur sulit yang sebelumnya dilalui rombongan. Orangutan itu harus dipindahkan ke tempat yang lebih datar dan aman agar tim dokter dapat melakukan pemeriksaan.

Di tengah keterbatasan penerangan dan medan yang berat, setiap orang mengambil peran. Keselamatan orangutan menjadi tujuan yang menyatukan mereka malam itu.

Sebelum tim penyelamat tiba, keberadaan orangutan tersebut pertama kali diketahui warga yang sedang memeriksa kebun.

Sabinus, warga setempat, menceritakan bahwa sekitar pukul 08.00 WIB, temannya bernama Kamilus pergi ke kebunnya di Gang Sahabat, Jalan Tjilik Riwut kilometer 9 Sampit-Kota Besi.

Saat berada di tengah hutan bekas terbakar, Kamilus melihat seekor orangutan berada di tanah. Ketika menyadari ada manusia, orangutan itu bergerak lalu memanjat pohon. Kamilus kemudian menghubungi Sabinus untuk menyampaikan temuan tersebut.

"Sesampai di kebun, beliau membersihkan kebun, setelah sampai di tengah hutan yang bekas kebakaran, dia melihat orang utan berada di tanah. Orangutan itu berjalan. Setelah melihat Kamilus ini orangutan itu naik ke pohon. Setelah dia naik ke pohon, teman saya ini, Pak Kamilus ini, dia menelepon saya meminta tolong," ujar Sabinus.

Mendengar laporan itu, Sabinus memahami bahwa orangutan merupakan satwa yang dilindungi. Ia memilih mencari bantuan dari pihak yang berwenang, bukan mencoba menangkapnya sendiri.

Ia menghubungi mantan camat, Admadi Sastra, untuk mendapatkan kontak petugas yang dapat menangani satwa tersebut. Setelah memperoleh nomor yang dibutuhkan, ia segera melaporkan keberadaan orangutan kepada petugas.

Informasi itu kemudian ditindaklanjuti. Pada siang hari, Wakil Bupati Kotim Irawati turut datang ke lokasi untuk memastikan keberadaan orangutan yang dilaporkan warga.

Sabinus bersyukur laporan tersebut mendapat respons hingga petugas datang melakukan penyelamatan pada malam harinya.

"Kami bersyukur petugas datang, lalu malam harinya tim dari Pangkalan Bun juga datang. Jadi, orangutan berhasil diamankan. Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada petugas yang mengamankan satwa ini," imbuhnya. 

Bagi warga, penyelamatan itu juga membawa harapan agar kehidupan mereka di sekitar kebun dapat berjalan lebih tenang.

Ia mengungkapkan, selama ini orangutan kerap terlihat dari jejak aktivitasnya di sekitar kebun, meskipun warga jarang melihat langsung. Sejumlah tanaman, termasuk nanas dan kelapa, disebut pernah dicabut dan dimakan orangutan.

Namun, ia menyadari bahwa keberadaan orangutan di sekitar kebun tidak bisa dilepaskan dari kondisi habitatnya.

"Lokasinya penemuan orangutan tadi memang bekas terbakar. Jadi, rupanya orangutan selama ini kesulitan tidak punya makanan, lalu dia ke mana-mana, kebetulan teman saya ini ada tanam kelapa, orangutan itu mencabut beberapa pohon, tadi habis itu dicabut," bebernya.

Komandan BKSDA Pos Sampit Muriansyah mengatakan, pihaknya menerima laporan warga sekitar pukul 10.00 WIB. Petugas kemudian mendatangi lokasi dan memantau pergerakan orangutan bersama warga setempat.

Selanjutnya, penyelamatan dilakukan oleh BKSDA Kalimantan Tengah bersama tim OFI dan aktivis lingkungan Sampit.

Orangutan tersebut diperkirakan berusia sekitar 20 tahun dengan berat badan 28 kilogram. Saat ditemukan, individu betina itu berada di kawasan bekas kebakaran.

Muriansyah menduga orangutan tersebut sedang melintas untuk mencari makanan sebelum akhirnya terlihat warga.

"Orangutan saat terdesak, saat kebakaran, akan berpindah ke tempat yang lebih baik dan kami duga kuat orangutan tadi mencari makan dan terlihat oleh warga, dan selanjutnya oleh warga dilaporkan kepada petugas BKSDA," kata Muriansyah.

Dirinya tidak menemukan sarang di sekitar lokasi penemuan. Karena itu, orangutan tersebut diduga tengah berpindah tempat untuk mencari makan. Saat melihat manusia, orangutan itu kemungkinan merasa terancam lalu memanjat pohon.

Bagi satwa liar, kebakaran hutan dan lahan bukan hanya persoalan hilangnya pepohonan. Api dapat menghilangkan sumber makanan, merusak tempat berlindung, serta memaksa satwa bergerak menuju kawasan lain yang ada sumber makanan.

Ketika ruang hidupnya berubah, satwa dapat muncul di sekitar kebun atau permukiman manusia. Situasi semacam ini berpotensi menimbulkan konflik jika tidak ditangani dengan tepat.

Muriansyah mengingatkan masyarakat agar segera melapor apabila menemukan satwa liar dilindungi, seperti orangutan atau beruang madu.

Ia meminta warga tidak mencoba menangkap atau menangani satwa tersebut secara mandiri karena tindakan itu berbahaya dan dapat berujung pada persoalan hukum.

Setelah berhasil diturunkan dari pohon, orangutan itu dibawa ke lokasi yang lebih aman untuk menjalani pemeriksaan awal oleh dokter hewan dari OFI, drh. Ichlasul Khaerul.

Saat tim tiba di lokasi, orangutan tersebut masih terlihat aktif. Respons terhadap lingkungan, gerakan tubuh, dan suara yang dikeluarkan menjadi salah satu tanda yang diamati tim sebelum proses pembiusan dilakukan.

Menurut Ichlasul, posisi orangutan di pohon yang rimbun membuat petugas harus terlebih dahulu mengupayakan perpindahan ke lokasi yang lebih memungkinkan untuk pembiusan.

"Jadi kita melakukan proses pembiusan dulu dan alhamdulillah orang utannya keadaannya masih dalam keadaan yang baik. Hal itu didukung dari respon-respon yang diberikan dari orang utan itu, baik itu dari suara, dari gerak-gerik, kita tidak melihat dia lemas ataupun dia hanya diam saja di atas pohon begitu," terangnya. 

Pemeriksaan fisik awal tidak menemukan tanda patah tulang maupun luka pada tubuh orangutan tersebut. Dokter juga tidak menemukan bekas proyektil atau peluru.

Pemeriksaan menggunakan stetoskop juga menunjukkan suara paru-parunya masih baik. Tim pun belum menemukan gejala yang mengarah pada infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) berdasarkan pemeriksaan awal.

Meski begitu, kondisi tersebut belum menjadi satu-satunya dasar untuk menentukan langkah selanjutnya. Tim masih perlu memeriksa sampel darah di laboratorium dan memantau kondisi orangutan setelah pengaruh obat bius menghilang.

Berat badannya tercatat 28 kilogram. Menurut Ichlasul, angka tersebut masih masuk kategori ideal untuk orangutan betina berdasarkan standar yang digunakan tim. Namun, kondisi fisiknya juga menunjukkan kemungkinan bahwa orangutan itu mengalami kekurangan makanan.

"Namun kalau kita lihat kondisinya itu sendiri, dilihat dari lingkar perutnya itu mungkin orangutan Ira ini dalam keadaan kelaparan, karena mungkin kita lihat kondisi lapangan bahwa sumber makanan di situ sangat, kita bisa bilang enggak ada kali," katanya. 

Untuk menentukan langkah berikutnya, tim akan berkoordinasi dengan BKSDA setelah hasil pemeriksaan darah dan pemantauan pascabius diperoleh.

Apabila hasil evaluasi menunjukkan kondisinya memungkinkan, BKSDA akan menentukan apakah orangutan tersebut perlu dipindahkan ke lokasi lain yang lebih aman.

Setelah pemeriksaan awal selesai, orangutan yang diberi nama Ira tersebut ditempatkan di kandang sementara yang berada di atas kendaraan tim penyelamat. Selanjutnya, ia akan dibawa ke Pangkalan Bun untuk menjalani penanganan lebih lanjut.

Perlahan, pintu kandang ditutup. Suasana malam masih menyisakan gelap dan jejak kebakaran di sekitar lokasi meski kabut asap perlahan memudar. Warga yang sejak pagi mengikuti perkembangan penyelamatan tetap berada di sekitar tim.

Di antara suara kendaraan dan percakapan yang terdengar sayup-sayup, terselip ungkapan syukur. Orangutan yang sebelumnya terjebak di kawasan bekas terbakar itu akhirnya berhasil diamankan.

Dalam catatan BKSDA Pos Sampit, orangutan Ira tersebut menjadi individu keempat yang berhasil diselamatkan dari ancaman karhutla di Kotim. Sebelumnya, petugas mengamankan dua individu orangutan Raya dan rayu di Jalan Sawit Raya, serta satu individu orangutan di Desa Bagendang. (DEWI PATMALASARI/Y)