JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta - Kementerian Ekonomi Kreatif berkomitmen untuk memberikan pendampingan kepada pelaku industri kreatif Indonesia agar mampu menjangkau konsumen di pasar Jepang dalam upaya perluasan akses pasar internasional.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Irene Umar membahas peluang kerja sama tersebut dengan Atase Perdagangan KBRI Tokyo Merry Astrid Indriasari salah satunya mengenai peluang kolaborasi dengan Jepang dalam festival Indonesia-Japan Friendship Festival (IJFF) 2026.

“Pertemuan ini menjadi langkah strategis untuk menyinergikan dan memperluas akses pasar global bagi produk kreatif Indonesia. Kementerian Ekraf siap menjadi mitra strategis dalam proses kurasi hingga pendampingan produk mengenai rencana partisipasi Indonesia dalam berbagai acara festival internasional seperti Indonesia-Japan Friendship Festival (IJFF) 2026,” ujar Irene dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis.

Ia mengatakan penjajakan tersebut menjadi salah satu langkah untuk mempertemukan potensi ekonomi kreatif Indonesia dengan jaringan industri global.

Partisipasi Indonesia dalam Indonesia-Japan Friendship Festival (IJFF) dijadwalkan berlangsung pada Desember 2026. Melalui ajang ini, produk dan talenta dari 21 subsektor ekonomi kreatif Indonesia diharapkan dapat menjangkau masyarakat Jepang secara lebih luas, tidak terbatas pada komunitas diaspora Indonesia.

Sejumlah produk yang berpotensi dipromosikan antara lain jamu, kopi, parfum, dan tas, serta talenta di bidang musik. Kementerian Ekraf bersama mitra terkait akan menjajaki bentuk promosi yang sesuai dengan karakter pasar Jepang dan kesiapan masing-masing subsektor.

Atase Perdagangan KBRI Tokyo Merry Astrid Indriasari menilai produk kreatif Indonesia memiliki peluang di pasar Jepang apabila mampu memadukan fungsi, kualitas dan karakter desain khas Nusantara.

Produk berbahan kulit, kayu, dan rotan, misalnya, dinilai berpotensi memenuhi kebutuhan konsumen Jepang yang cenderung menyukai produk sederhana, fungsional, serta memiliki warna yang tidak terlalu kontras.

“Kalau kita ingin masuk ke pasar Jepang, jangan mencoba mengikuti gaya Jepang sepenuhnya. Tampilkan apa yang Indonesia punya. Justru ciri khas Indonesia itulah yang dapat diapresiasi oleh masyarakat Jepang dan menjadi nilai pembeda produk kreatif Indonesia,” kata Merry.

Menurut dia, pengalaman promosi produk dan talenta Indonesia di Jepang, termasuk pada momentum Osaka World Expo 2025, dapat menjadi modal untuk memperluas pengenalan karya kreatif nasional.

Selain melalui festival, peluang kolaborasi juga akan dijajaki lewat World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 yang berlangsung pada 21–23 Oktober 2026 di Jakarta.

Forum bertema Inclusively Creative: Collective Continuity tersebut mempertemukan pemerintah, pelaku industri kreatif, kreator, investor, dan mitra internasional untuk membangun kolaborasi serta membuka peluang pengembangan kekayaan intelektual atau intellectual property (IP).

Irene mengatakan produk dan karya kreatif Indonesia perlu memiliki konsep promosi yang relevan dengan karakter konsumen negara tujuan agar dapat bersaing di pasar internasional.

“Indonesia memiliki kekayaan ide, kreativitas, dan identitas yang bisa menjadi daya tarik tersendiri di pasar global. Kita perlu memastikan bahwa produk dan karya kreatif yang dibawa ke Jepang tidak hanya tampil sebagai produk Indonesia, tetapi juga memiliki konsep promosi yang relevan, menarik, dan mampu membangun hubungan dengan konsumen setempat,” ujarnya.

Melalui penjajakan kerja sama ini, Kementerian Ekraf berharap pelaku ekonomi kreatif Indonesia memperoleh peluang kemitraan baru sekaligus memperluas jangkauan pasar di luar negeri.

Penguatan karakter produk dan strategi promosi yang sesuai dengan pasar tujuan menjadi bagian dari upaya meningkatkan apresiasi terhadap karya kreatif Indonesia di tingkat internasional.

ANTARA