SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Orangutan bernama Ira yang diselamatkan dari kawasan terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur menunjukkan kondisi fisik yang relatif baik. Namun hasil pemeriksaan awal mengindikasikan individu orangutan betina tersebut kemungkinan mengalami kelaparan akibat minimnya sumber makanan di habitatnya.

Tim dokter dari Orangutan Foundation International (OFI), drh Ichlasul Khaerul, mengatakan Ira masih aktif ketika tim tiba di lokasi pada Rabu, 14 Oktober 2026. Saat itu, individu orangutan tersebut berada di atas pohon di kawasan yang terdampak kebakaran.

Proses penyelamatan tidak langsung dilakukan dengan pembiusan. Tim terlebih dahulu berupaya mengarahkan Ira berpindah ke pohon lain agar proses pembiusan dapat dilakukan dengan lebih aman.

"Karena dari pohon tempat dia berada itu cukup sulit kita untuk melakukan pembiusan karena pohonnya rimbun, terus banyak ranting, itu akses untuk pembiusan kita cukup terhambat," ujar Ichlasul.

Setelah proses pembiusan berhasil dilakukan, tim melanjutkan pemeriksaan fisik untuk mengetahui kondisi kesehatan Ira.

Dari pemeriksaan awal, dokter tidak menemukan tanda-tanda patah tulang, luka, maupun bekas peluru pada tubuhnya. Respons Ira selama berada di pohon, termasuk suara dan gerak-geriknya, juga menunjukkan bahwa kondisinya tidak lemas.

Selain memeriksa kondisi fisik, tim dokter juga mengecek kondisi pernapasan Ira menggunakan stetoskop. Hasil pemeriksaan awal menunjukkan suara paru-parunya masih baik.

Ichlasul menjelaskan, Ira juga masih menunjukkan aktivitas yang cukup aktif. Kondisi tersebut menjadi salah satu hal yang diperhatikan tim dalam menilai kondisi kesehatannya setelah ditemukan di kawasan terdampak karhutla.

Berdasarkan pemeriksaan umum, tim belum menemukan gejala infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada Ira. Meski demikian, pemeriksaan lanjutan tetap diperlukan untuk memastikan kondisi kesehatannya secara lebih menyeluruh.

Tim akan memeriksa sampel darah Ira di laboratorium. Hasilnya akan menjadi salah satu bahan pertimbangan untuk menentukan langkah penanganan selanjutnya.

Dari hasil penimbangan, Ira memiliki bobot tubuh 28 kilogram. Menurut standar yang digunakan tim dokter OFI, berat tersebut masih tergolong ideal untuk orangutan betina.

Namun, kondisi tubuh Ira menunjukkan kemungkinan kekurangan makanan. Dugaan itu muncul setelah tim memperhatikan lingkar perutnya dan kondisi habitat tempat individu orangutan tersebut ditemukan.

"Namun kalau kita lihat kondisinya itu sendiri, dilihat dari lingkar perutnya itu mungkin orangutan Ira ini dalam keadaan kelaparan, karena mungkin kita lihat kondisi lapangan bahwa sumber makanan di situ sangat, kita bisa bilang enggak ada kali," katanya.

Selain bobot tubuh, tim dokter juga memperkirakan usia Ira melalui pemeriksaan gigi diperkirakan berusia sekitar 20 tahun.

Setelah penyelamatan, Ira akan dipantau untuk memastikan kondisinya tetap stabil ketika efek obat bius mulai menghilang. Tim juga akan mengamati kemungkinan munculnya dampak lain setelah proses pembiusan yang belum terlihat saat pemeriksaan awal.

"Kita melihat dari hasil pemeriksaan darah dulu, kita melihat dari ketika dia sadar nanti bagaimana efek dari bius itu sendiri, apakah dia, takutnya setelah kami melakukan pembiusan ada efek-efek lainnya yang secara umum kita enggak ketemu di lapangan," jelas Ichlasul.

Setelah hasil pemeriksaan darah dan pemantauan kondisi Ira diperoleh, OFI akan berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalteng.

Keputusan mengenai kemungkinan pemindahan atau translokasi Ira akan ditentukan BKSDA setelah mempertimbangkan hasil pemeriksaan dan kondisi individu orangutan tersebut.

Diketahui Orangutan Ira berhasil diselamatkan BKSDA Kalteng bersama OFI dan aktivis lingkungan Sampit di sekitar lokasi terdampak kebakaran Jalan Tjilik Riwut KM 9, Gang Sahabat pada Rabu malam, 14 Oktober 2026.(DEWI PATMALASARI/R)