SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Kasus diare atau muntaber di RSUD dr Murjani Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), meningkat sekitar 25 hingga 30 persen di tengah kondisi kemarau panjang. Bupati Kotim Halikinnor menduga kondisi air yang terkontaminasi intrusi air laut menjadi salah satu faktor yang berpotensi memicu peningkatan tersebut.

"Ada peningkatan yaitu diare ataupun muntaber terhadap anak-anak khususnya. Ini memang sangat berpengaruh karena kondisi air di daerah kita ini sudah terkontaminasi dengan air laut. Sehingga ini yang dikonsumsi oleh masyarakat kita otomatis ini yang kemungkinan besar bisa terjadi lonjakan. Sampai saat ini sudah antara 25 sampai 30 persen terjadi peningkatan seperti biasa," kata Halikinnor, Kamis, 15 Oktober 2026.

Hal itu disampaikan Halikinnor setelah meninjau RSUD dr Murjani Sampit saat melakukan monitoring dan evaluasi sektor pendidikan, kesehatan, serta penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Menurut Halikinnor, peningkatan kasus diare pada anak menjadi salah satu hal yang menjadi perhatian pemerintah daerah di tengah dampak kemarau panjang. Ia menduga kondisi air yang dikonsumsi masyarakat berpotensi berkontribusi terhadap peningkatan kasus tersebut.

Sementara itu, kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang dikhawatirkan meningkat akibat kabut asap karhutla justru belum menunjukkan lonjakan signifikan di RSUD dr Murjani Sampit.

"Rumah sakit ini apakah akibat dari situasi kita yang karhutla sampai saat ini tinggi, asap juga cukup tebal dan udara juga cukup berbahaya, ini ternyata khususnya ISPA tidak signifikan terjadinya lonjakan karena itu bisa ditangani oleh puskesmas-puskesmas," ujarnya.

Halikinnor mengatakan, manajemen RSUD dr Murjani Sampit telah menyiapkan langkah antisipasi apabila jumlah pasien meningkat. Persiapan meliputi ketersediaan ruangan perawatan, obat-obatan, serta tenaga kesehatan yang akan menangani pasien.

Ia berharap langkah tersebut dapat memastikan pelayanan tetap berjalan apabila terjadi lonjakan pasien, meskipun pemerintah daerah berharap kondisi tidak berkembang menjadi lebih parah.

"Saya sudah mengecek juga dengan pihak manajemen rumah sakit, ini sudah juga diantisipasi. Artinya, kalau terjadi lonjakan luar biasa, rumah sakit juga sudah mengantisipasi dengan persiapan ruangan, termasuk juga obat-obatan dan personel atau perawat yang menangani," tuturnya.

Selain memantau pelayanan kesehatan, Halikinnor juga mengevaluasi penanganan karhutla di Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim, mulai dari peralatan, anggaran, hingga personel lapangan.

Ia berharap hujan segera turun di Kotim sehingga dapat membantu mengakhiri kebakaran hutan dan lahan yang masih terjadi.

Berdasarkan prakiraan cuaca BMKG, hujan diperkirakan mulai turun di wilayah utara pada pertengahan Oktober. Halikinnor berharap hujan juga segera menjangkau kawasan perkotaan.

"Mudah-mudahan dalam waktu dekat ini juga di daerah perkotaan juga hujan sehingga karhutla bisa berlalu di daerah kita," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/j)