JAKARTA –

BORNEONEWS, Tokyo – Jepang mulai menguji operasi robotik jarak jauh sebagai salah satu solusi untuk mengatasi kekurangan dokter dan ketimpangan layanan bedah antarwilayah.

Universitas Hirosaki bersama Perhimpunan Bedah Jepang telah melakukan operasi terhadap lima pasien kanker usus menggunakan robot bedah yang dikendalikan dari lokasi berbeda sejak Agustus 2026.

Operasi dilakukan oleh dokter dari Rumah Sakit Universitas Hirosaki dan Rumah Sakit Umum Tsugaru di Prefektur Aomori, Jepang timur laut.

Dalam setiap prosedur, seorang dokter mengoperasikan robot bedah hinotori secara langsung, sementara dokter lain membantu mengendalikan robot yang sama dari lokasi berbeda melalui sistem jarak jauh.

Robot hinotori dikembangkan perusahaan Jepang Medicaroid Corp.

Menurut Universitas Hirosaki dan Perhimpunan Bedah Jepang, metode tersebut menjadi penerapan klinis pertama di Jepang untuk operasi robotik yang melibatkan dokter dari lokasi berbeda.

Pengembangan teknologi itu diarahkan untuk mengurangi kesenjangan layanan bedah, terutama bagi pasien di daerah yang kekurangan dokter spesialis.

Masaki Mori, profesor Universitas Tokai sekaligus ketua komite promosi bedah jarak jauh Perhimpunan Bedah Jepang, mengatakan tujuan utama pengembangan tersebut adalah memperkecil kesenjangan pelayanan medis antarwilayah.

Pihaknya menargetkan operasi robotik jarak jauh dapat digunakan secara komersial dalam waktu sekitar dua tahun.

Sebelum itu, beberapa operasi tambahan masih akan dilakukan hingga Maret untuk mengevaluasi keamanan sistem.

Hasil evaluasi akan menjadi dasar pengajuan persetujuan regulator terhadap perangkat yang digunakan sekaligus upaya memasukkan layanan tersebut ke dalam skema asuransi kesehatan nasional Jepang.

Jika dapat diterapkan secara luas, teknologi tersebut diharapkan memungkinkan pasien memperoleh layanan operasi spesialis tanpa harus bepergian jauh dan mengeluarkan biaya tambahan.

ANTARA