KUALA PEMBUANG –

BORNEONEWS, Kuala Pembuang -  Gelombang tinggi yang melanda perairan Kalimantan Tengah sejak Juli hingga Oktober 2026 membuat aktivitas nelayan di Desa Sungai Bakau, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, terganggu. Selama empat bulan terakhir, sebagian besar nelayan terpaksa tidak melaut demi menjaga keselamatan.

Kepala Desa Sungai Bakau, Sudarso, mengatakan kondisi cuaca yang belum bersahabat berdampak langsung terhadap masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari hasil laut.

“Sudah empat bulan ini nelayan belum berani melaut karena gelombang tinggi, mulai Juli sampai Oktober,” ungkap Sudarso, Jumat, 16 Oktober 2026.

Ia menjelaskan, di Desa Sungai Bakau terdapat  sekitar 200 nelayan, dengan kurang lebih 140 orang di antaranya merupakan nelayan aktif. Namun, tingginya gelombang membuat sebagian besar nelayan belum dapat menjalankan aktivitas seperti biasanya.

Memasuki Oktober 2026, beberapa nelayan mulai mencoba kembali melaut. Meski demikian, kondisi cuaca tetap menjadi pertimbangan utama demi menghindari risiko selama beraktivitas di perairan.

Situasi ini menjadi tantangan bagi masyarakat pesisir karena melaut merupakan salah satu sumber utama penghasilan mereka. Ketika gelombang tinggi terjadi, nelayan harus menunda aktivitas hingga kondisi perairan dinilai lebih aman.

Sudarso berharap cuaca ekstrem segera berlalu sehingga para nelayan Desa Sungai Bakau dapat kembali melaut dengan aman dan menjalankan aktivitas ekonomi seperti sediakala.

“Harapan kita cuaca ekstrem ini segera berlalu,” tutupnya. (FAHRUL/y)