SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang mengganggu penerbangan dari Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur berdampak terhadap mobilitas pebisnis dan investor.

Mereka yang biasanya mengandalkan pesawat untuk perjalanan cepat kini harus menempuh perjalanan darat sekitar delapan hingga sembilan jam menuju Bandar Udara Internasional Syamsudin Noor, Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

"Kalau dari segi ekonomi, otomatis yang pertama adalah yang terdampak ini adalah orang-orang yang biasanya melakukan bisnis yang dalam waktu yang cepat, biasa naik pesawat, mereka harus sekarang satu-satunya yang bisa bandara di jalannya adalah Banjarmasin. Mereka bisa melakukan perjalanan darat delapan jam sampai sembilan jam dulu ke Banjarmasin. Ini yang paling terdampak adalah para pebisnis-pebisnis yang ada di Kota Sampit terutama investor-investor," kata Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kotim Raihansyah, Jumat, 16 Oktober 2026.

Menurutnya, terganggunya penerbangan membuat perjalanan bisnis membutuhkan waktu lebih lama. Kondisi ini menjadi tantangan bagi pelaku usaha yang mengandalkan transportasi udara untuk menunjang aktivitas dan pertemuan bisnis di luar daerah.

Meski demikian, distribusi barang kebutuhan pokok dan sembako relatif tidak terdampak langsung karena sebagian besar pengangkutannya menggunakan kapal laut.

Raihansyah mengatakan, Dishub Kotim terus berkoordinasi dengan instansi terkait untuk menjaga kelancaran sekaligus keselamatan pelayaran, terutama ketika kapal memasuki dan keluar dari alur Sungai Mentaya.

Pengawasan diperketat guna memastikan keselamatan penumpang maupun distribusi barang melalui jalur laut. Hingga saat ini, jadwal pelayaran kapal laut disebut masih berjalan normal tanpa perubahan akibat gangguan penerbangan.

"Kalau arus barang, sembako dan lain sebagainya ini sebagian besar melalui kapal laut. Ini yang kami jaga, kami tetap melakukan koordinasi terus dengan pihak terkait kaitan dengan ini dan pengawalan lebih ketat pada saat mereka memasuki dan keluar alur Sungai Mentaya," ujarnya.

Namun kondisi gelombang laut yang besar menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Keberangkatan kapal yang melintasi Laut Jawa tetap mempertimbangkan kondisi cuaca dan rekomendasi dari instansi berwenang.

Raihansyah menyebut, Dishub telah berkoordinasi dengan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) untuk meningkatkan kewaspadaan serta pengawasan terhadap kapal yang berangkat maupun tiba di Sampit.

"Kalau pelayaran kemarin dengan kami koordinasi ke KSOP, kami melakukan imbauan-imbauan dan KSOP juga melakukan pada saat kapal berangkat terus pengawasannya lebih diperketat dengan instansi terkait pada saat mereka berangkat ataupun pada saat mereka datang ini diimbau atau pengawalan diperketat untuk memasuki alur Sungai Mentaya," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/R)