SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah (Kalteng) berhasil menyelamatkan empat individu orangutan dari kawasan terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, sepanjang Agustus hingga Oktober 2026.

Keempat individu tersebut ditemukan di areal bekas kebakaran, bahkan beberapa di antaranya berada di lokasi yang api dan asapnya masih mengancam habitat satwa.

"Mulai Agustus, September, dan Oktober ini BKSDA Pos Sampit berhasil melakukan kegiatan penyelamatan empat individu orang utan. Itu dua individu anak dan induk di Jalan Sawit Raya, satu individu di Bagendang, dan yang terakhir di wilayah Kelurahan Baamang Hulu," kata Komandan BKSDA Pos Sampit Muriansyah, Jumat, 16 Oktober 2026.

Muriansyah menjelaskan, kondisi habitat yang terbakar diduga membuat orangutan berpindah tempat untuk mencari makanan dan kawasan yang lebih aman.

Penyelamatan dilakukan setelah petugas menerima laporan mengenai keberadaan satwa dilindungi tersebut, kemudian berkoordinasi dengan tim penyelamat untuk melakukan evakuasi. Berikut kisah 4 individu orangutan tersebut:

Induk dan Anak Orangutan Diselamatkan di Hutan Kota Sampit

BKSDA Kalteng dan OFI berhasil menyelamatkan dua individu orangutan yang ditemukan di kawasan Hutan Kota Sampit, Jalan Sawit Raya, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, pada 2 September 2026.

Awalnya, petugas menerima laporan mengenai satu individu orangutan yang bertahan di atas pohon di tengah lahan gambut bekas terbakar. Namun, saat proses penyelamatan berlangsung hingga malam, diketahui bahwa satwa tersebut bersama anaknya.

Keduanya diduga bertahan di atas pohon karena kondisi di bawahnya masih menyisakan bara api. Tim BKSDA bersama Orangutan Foundation International (OFI) melakukan evakuasi dengan hati-hati di tengah medan yang sulit dan penerangan terbatas.

Hasil pemeriksaan awal tidak menemukan luka bakar maupun luka terbuka pada tubuh induk dan anak orangutan tersebut. Keduanya kemudian diberi nama Raya dan Rayu, sebelum ditranslokasi ke Suaka Margasatwa Lamandau pada 4 September 2026.

Orangutan Sindi Dievakuasi dari Kawasan Huan Tanaman Rakyat di Bagendang

Penyelamatan berikutnya dilakukan terhadap orangutan betina bernama Sindi di kawasan Hutan Tanaman Rakyat (HTR) Ramban, Desa Bagendang Tengah, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, pada 25 September 2026.

Sindi ditemukan bertahan di pohon kering di kawasan yang sebagian vegetasinya terdampak kebakaran.

Proses evakuasi berlangsung hingga dini hari karena posisi Sindi di atas pohon cukup tinggi dan satwa tersebut beberapa kali berpindah tempat. Setelah berhasil dibius, tubuhnya sempat tersangkut di antara dahan sebelum akhirnya dapat diturunkan dengan aman. Pemeriksaan awal tidak menemukan luka bakar maupun luka lainnya. 

Setelah menjalani pemeriksaan kesehatan di Pangkalan Bun, Sindi ditranslokasi ke Suaka Margasatwa Lamandau pada 27 September 2026.

Ira Orangutan Kelaparan Diselamatkan dari Kawasan Bekas Kebakaran Baamang Hulu

Penyelamatan keempat dilakukan terhadap orangutan betina bernama Ira di wilayah Kelurahan Baamang Hulu, Sampit, pada 14 Oktober 2026.

Ira ditemukan berada di atas pohon di kawasan bekas terbakar. Tim BKSDA dan OFI harus menghadapi medan sulit serta ranting pohon yang rimbun sebelum berhasil melakukan pembiusan dan mengevakuasinya pada malam hari.

Berdasarkan pemeriksaan awal dokter hewan OFI, Ira diperkirakan berusia sekitar 20 tahun dengan berat 28 kilogram. Tidak ditemukan patah tulang, luka terbuka, maupun bekas peluru pada tubuhnya. Pemeriksaan awal juga belum menunjukkan gejala infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Meski kondisi fisiknya relatif baik, Ira diduga mengalami kelaparan karena minimnya sumber makanan di sekitar lokasi penemuan. Pemeriksaan darah dan pemantauan lanjutan diperlukan sebelum BKSDA menentukan langkah penanganan berikutnya.

Empat penyelamatan tersebut menunjukkan bahwa karhutla tidak hanya mengancam permukiman dan aktivitas masyarakat, tetapi juga merusak habitat satwa liar serta mengurangi ketersediaan makanan. 

BKSDA mengimbau masyarakat segera melaporkan apabila menemukan orangutan atau satwa dilindungi lainnya di kawasan terbakar maupun dekat permukiman.

Warga juga diminta tidak menangkap atau menangani satwa secara mandiri agar keselamatan manusia dan satwa tetap terjaga. (DEWI PATMALASARI/R)