BORNEONEWS, Sampit - Teknologi carbon farming yang diterapkan pada lahan gambut di Jalan HM Arsyad Kilometer 5, Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), disebut mampu membantu menjaga kelembapan tanah dan mengurangi risiko kebakaran saat musim kemarau.
"Ini lahan gambut yang belum kita kerjakan, terjadi kebakaran. Tapi apinya itu sampai di sini saja batasnya karena di sebelahnya sudah kami lakukan teknologi carbon farming," kata Dr Joni, selaku Peneliti utusan SMA Muhammadiyah Sampit yang membina konservasi lahan gambut tersebut, Jumat, 16 Oktober 2026.
Teknologi carbon farming tersebut diterapkan di konservasi lahan gambut insitu eksitu yang merupakan kerja sama antara PT Gunung Gajah Abadi (PT GGA) Samarinda dengan SMA Muhammadiyah Sampit.
Joni menjelaskan, penerapan karbon farming di kawasan konservasi tersebut memanfaatkan biochar untuk membantu mempertahankan kelembapan tanah.
Menurutnya, salah satu hal yang terlihat dari penerapan teknologi tersebut adalah kemampuan tanaman bertahan selama musim kemarau. Tanaman pisang tetap berbuah, sementara sejumlah tanaman lain masih tumbuh meskipun tidak mendapatkan penyiraman secara rutin.
Kondisi serupa juga terlihat pada tanaman kelapa sawit di lokasi tersebut. Joni menyebut tanaman itu tetap berbuah meskipun tidak diberi pupuk di atas lahan yang dikelola menggunakan teknologi carbon farming.
"Keunggulan daripada carbon farming, tanpa disiram tanamannya masih eksis dan subur-subur," ujarnya.
Selain pisang dan kelapa sawit, sejumlah tanaman lain juga masih bertahan, di antaranya sawo Australia, belangiran, serta tanaman buah lokal seperti katapi.
Joni menilai kondisi tersebut menunjukkan potensi teknologi carbon farming dalam membantu menjaga kondisi lahan dan mendukung keberlangsungan tanaman di tengah cuaca kering.
Ia menjelaskan, teknologi carbon farming membuat permukaan lahan yang tampak kering masih mampu mempertahankan air di dalam tanah sehingga tanaman tetap memperoleh kelembapan yang dibutuhkan
Joni menunjukkan perbedaan kondisi lahan yang dikelola tanpa teknologi carbon farming di kawasan yang berjarak sekitar satu kilometer dari lokasi konservasi. Di tempat tersebut, sejumlah pohon terlihat mati meskipun permukaan tanah ditutupi lapisan tanah sekitar 1 meter dan rumput di atasnya masih tampak segar.
Menurut Joni, kondisi itu berkaitan dengan api yang menjalar dari dalam lapisan gambut. Penyiraman pada permukaan lahan, kata dia, belum tentu mampu memadamkan api apabila kebakaran masih berlangsung di bawah tanah.
"Kalau tidak menggunakan teknologi carbon farming, apinya itu tetap menyala dari dalam tanah. Jadi, meskipun rumputnya masih segar, sering disiram juga ini, karena apinya dari dalam tanah, makanya pohon pada mati. Panas di dalam gambut," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/J)









