SAMPIT –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun – Rekaman percakapan telepon antara Wakil Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) Irawati dengan Staf Ahli Menteri Kehutanan Fahrizal Fitri beredar setelah Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni batal meninjau kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sampit, Rabu, 14 Oktober 2026.

Dalam percakapan tersebut, Irawati menyampaikan kekecewaan karena Menhut tidak jadi menemui relawan dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) yang telah menunggu di Jalan Jaksa, serta tidak menghadiri makan malam yang disiapkan di Phoenix.

Dalam rekaman itu, Irawati mengungkapkan kekecewaannya kepada Fahrizal karena masyarakat dan relawan yang sedang berjuang menangani karhutla di Kotim berharap mendapatkan perhatian dari pemerintah pusat. Ia menyampaikan keluhannya dengan bahasa Banjar.

"Pak. Kayapa, Ulun, Pak? Masyarakat Ulun kesian kada diherani, Pak," kata Irawati

Dalam sambungan telepon itu, Fahrizal menjelaskan bahwa rombongan Menteri Kehutanan telah tiba di Sampit pada malam sebelumnya, Selasa, 13 Oktober 2026. Saat itu agenda kunjungan Menteri Kehutanan harus menuju Pangkalan Bun untuk mengikuti rapat koordinasi penanganan karhutla di Taman Nasional Tanjung Puting.

"Bukan. Bukan kada diherani. Kami nih sudah sampe Sampit malam tadi. Nah, pertemuan kami nih ada di Pangkalan Bun. Nah, kami hendak rakor ketemu beliau. Beliau nih hendak kembali ke Palangka raya. Jadi, Pak Menteri juga kita rakor di Pangkalan Bun. Nah, lalu sidin ke anu, ke Palangka, karena kan hari Jumat Pak Menko datang ke Palangka Raya, gitulah. Jadi setelah dari Pangkalan Bun nih nanti kami ke anu, ke mana? Ke Sampit lagi," kata Fahrizal Fitri

Irawati kemudian menjelaskan bahwa dirinya bersama Forkopimda dan relawan telah menunggu di pinggir jalan. Ia menyebut pemerintah daerah sebenarnya tidak mempersoalkan jika jajaran Forkopimda tidak ditemui, tetapi berharap Menteri Kehutanan bersedia bertemu dengan relawan yang selama ini terlibat langsung dalam pemadaman kebakaran.

"Iya, tapi ya, Pak. Kemarin kami nunggu di pinggir jalan, orang pian juga kada singgah. Terus kami makan sudah disiapkan di phoenix. Pak, di pinggir jalan jalan Jaksa, Pak. Saya dengan Forkopimda, Pak, dengan relawan. Jar ulun kami tidak apa-apa tidak ditemui Forkopimda, tapi relawan kami ditemuilah. Kami juga manusia yang perlu diperhatikan. Tiga orang yang meninggal relawan kami, Pak," ucap Irawati

Fahrizal mengaku tidak memperoleh informasi mengenai keberadaan Forkopimda dan relawan yang menunggu di Jalan Jaksa. Ia menyampaikan bahwa informasi tersebut tidak sampai kepadanya saat agenda kunjungan Menteri Kehutanan berlangsung.

Irawati kemudian menjelaskan bahwa pemerintah daerah telah menyiapkan makan malam di Phoenix. Namun, menurutnya, Menteri Kehutanan tidak menghadiri agenda tersebut dan memilih menuju lokasi lain. Ia juga menyampaikan bahwa kondisi karhutla semakin berat dan relawan membutuhkan dukungan untuk menghadapi kebakaran yang terus meluas.

"Kami nunggu makan di phoenix, beliau tidak mau makan dengan kami malah pindah ke Jelawat, Pak. Kami tidak apa-apa sih tidak ditemui, tapi relawan-relawan kami tolong perhatikan, Pak. Sampaikan ke beliau, Pak. Kami perlu bantuan. Perlu bantuan karena memang tidak bisa lagi kami sudah mengorbankan relawan kami, api terus meluas karena memang keadaan di lapangan luar biasa, Pak," lanjut Irawati dalam sambungan telepon tersebut. 

Menanggapi permintaan tersebut, Fahrizal menyampaikan rasa prihatin atas situasi yang dihadapi pemerintah daerah dan relawan. Ia juga mengatakan akan menyampaikan kemungkinan rombongan Menhut akan singgah di Sampit setelah dari Pangkalan Bun.

"Kami turut prihatin, Bu. Jadi Bu Wabup kena bulik dari anu nih, Pangkalan Bun, kami kan tetap harus bulik lewat Banjarmasin. Kena kami singgah di anu, di Sampit lah. Kami infokanlah," beber Fahrizal Fitri.

Irawati kemudian meminta Fahrizal membantu menyampaikan kondisi dan harapan masyarakat Kotim kepada Menteri Kehutanan. Ia menekankan bahwa penanganan karhutla telah menguras tenaga, sementara relawan dan masyarakat yang berada di lapangan juga harus mendapat perlindungan.

"Terima kasih banyak. Ulun bersyukur ada staf ahli Kemenhut dari Kalimantan Tengah, tentunya melalui pian. Pian lagi bagaimana tahu perasaan kamu, pian tahu karena pian orang Kalimantan Tengah. Pernah juga pian menjadi Sekda di Kotim. Tentunya pian bisa nanti menyampaikan apa yang menjadi harapan kami dan menjadi harapan masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur. Karena kami memang benar-benar, benar-benar capek, Pak. Sudah capek mengurus ini, tapi mau bagaimana karena ini masyarakat, karena relawan kami juga manusia, Pak, yang memang harus dilindungi juga, masyarakat kami juga harus dilindungi, gitulah, Pak. Sampaikan ke beliau, Pak. Tadi malam kami sampai jam 02.00 masih berjibaku dengan api, Pak," terang Irawati.

Dalam percakapan itu, Fahrizal kembali menyebut dirinya tidak mengetahui bahwa Forkopimda telah menunggu rombongan Menteri Kehutanan. Ia menegaskan informasi mengenai keberadaan jajaran pemerintah daerah tersebut tidak diterimanya.

Setelah percakapan pribadi tersebut beredar, Fahrizal Fitri memberikan klarifikasi melalui akun Instagram pribadinya, @fahrizalfitri, yang diunggah berkolaborasi dengan akun resmi Kementerian Kehutanan, @kemenhut, pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Dalam pernyataannya, Fahrizal menyayangkan penyebaran percakapan tersebut karena menurutnya merupakan komunikasi pribadi antara dirinya dan Irawati. Ia juga menjelaskan bahwa pemerintah daerah tidak pernah meminta dirinya maupun pihak Kementerian Kehutanan mengatur pertemuan dengan relawan atau mengagendakan makan malam.

Fahrizal menjelaskan latar belakangnya sebagai putra daerah Kalimantan Tengah dan mantan Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Tengah. Ia menyebut agenda Menteri Kehutanan saat itu harus dilanjutkan ke Pangkalan Bun untuk rapat koordinasi penanganan karhutla di Taman Nasional Tanjung Puting.

Berikut pernyataan lengkap Fahrizal Fitri dalam klarifikasinya:

"Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya Fahrizal Fitri, Staf Ahli Menteri Kehutanan.
Di sini saya merasa perlu memberikan penjelasan tentang informasi yang beredar mengenai percakapan saya dengan Wakil Bupati Kotawaringin Timur. Saya merupakan putra daerah Kalimantan Tengah dan besar di Pangkalan Bun, dan pernah dipercaya menjadi Sekretaris Daerah Provinsi Kalteng.
Saya menyayangkan dan merasa kecewa karena percakapan yang beredar tersebut merupakan percakapan pribadi antara saya dan Ibu Wakil Bupati. Itu satu hal yang sangat tidak etis.
Dalam kunjungan Pak Menteri Kehutanan ke Sampit, Ibu Wabup tidak pernah meminta kepada saya maupun pihak Kementerian Kehutanan untuk mengagendakan pertemuan dengan relawan maupun undangan makan malam. Seperti yang dibicarakan dalam rekaman tersebut, Pak Menteri Kehutanan harus segera berangkat ke Pangkalan Bun dan rapat penanganan Karhutla di Taman Nasional Tanjung Puting.
Namun demikian, Pak Menteri Kehutanan akan tetap ke Sampit di kesempatan berikutnya. Karhutla ini merupakan persoalan bersama yang membutuhkan kerja sama antara pemerintah pusat, daerah, TNI-Polri, relawan, swasta, dan masyarakat.
Demikian dari saya. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh."

(*/j)