SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Meski kabut asap mulai menipis di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), aktivitas penerbangan di Bandara H Asan Sampit belum kembali normal. Jarak pandang yang masih terbatas, yakni sekitar 800 meter, membuat pesawat belum dapat beroperasi.

"Penerbangan masih belum ada. Jarak pandang masih 800 meter," kata Kepala Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) H Asan Sampit, Abdul Haris, Sabtu, 17 Oktober 2026.

Berdasarkan catatan Bandara H Asan Sampit, pesawat terakhir berhasil mendarat pada 22 September 2026. Sejak saat itu, penerbangan terganggu akibat jarak pandang yang tidak memenuhi persyaratan keselamatan. Kondisi tersebut berlangsung hingga saat ini.

Bandara H Asan Sampit sebelumnya melayani sejumlah rute, yakni Jakarta oleh Super Air Jet, Surabaya oleh Wings Air, serta Nam Sir melayani rute Semarang dan Surabaya. Namun, layanan tersebut belum dapat berjalan normal selama kondisi jarak pandang belum memungkinkan untuk penerbangan.

Kepala Dinas Perhubungan Kotim Raihansyah sebelumnya menjelaskan, jarak pandang yang dinilai aman untuk mendukung penerbangan berada pada kisaran 2.000 meter atau lebih. Sementara itu, jarak pandang di Sampit yang masih sekitar 800 meter berada jauh di bawah kisaran tersebut.

Menurut Raihansyah, gangguan penerbangan berkaitan dengan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Meski kebakaran di kawasan perkotaan mulai berkurang, asap dari titik kebakaran di wilayah lain diduga masih terbawa angin hingga Sampit dan mengganggu jarak pandang di sekitar bandara.

Terhentinya penerbangan juga berdampak pada mobilitas masyarakat, khususnya pelaku usaha dan investor yang membutuhkan perjalanan cepat ke luar daerah. Tanpa layanan penerbangan dari Sampit, perjalanan menuju kota lain menjadi lebih panjang dan kurang praktis.

Raihansyah mengatakan, masyarakat yang biasanya menggunakan pesawat kini harus menempuh perjalanan darat sekitar delapan hingga sembilan jam menuju Banjarmasin, Kalimantan Selatan, untuk mendapatkan akses penerbangan. Sementara itu, Bandara Iskandar di Pangkalan Bun dan Bandara Tjilik Riwut di Palangka Raya juga mengalami gangguan akibat kondisi kabut asap.

Dishub Kotim terus berkomunikasi dengan pihak maskapai untuk memantau perkembangan situasi. 

Raihansyah berharap jarak pandang segera membaik agar penerbangan dapat kembali beroperasi, mengingat gangguan berkepanjangan berpotensi menimbulkan kerugian bagi maskapai dan menghambat aktivitas ekonomi. 

Meski penerbangan belum berjalan, operasional Bandara H Asan Sampit dan aktivitas pegawai tetap berlangsung seperti biasa. (DEWI PATMALASARI/j)