BORNEONEWS, Palangka Raya – Jumlah titik panas (hotspot) di Kalimantan Tengah tercatat mengalami penurunan setelah terguyur hujan di beberapa titik kemarin namun untuk luasan kebakaran hutan dan lahan terpantau masih cukup tinggi.
Data Laporan Harian Posko PDB Karhutla Provinsi Kalimantan Tengah mencatat jumlah hostpot dari 15.931 pada 13 Oktober 2026 menjadi 1.480 pada 16 Oktober 2026, atau sekitar 91 persen. Namun pada 16 Oktober, luas karhutla yang tercatat justru melonjak menjadi 886,68 hektare, tertinggi dalam laporan harian 7-16 Oktober.
Hotspot harian tercatat 7.269 pada 14 Oktober, 4.686 pada 15 Oktober, dan 1.480 pada 16 Oktober. Hujan dilaporkan turun di sejumlah wilayah pada 15 Oktober.
Penurunan hotspot tidak diikuti turunnya kejadian. Laporan mencatat 83 kejadian pada 14 Oktober, 88 pada 15 Oktober, dan 68 pada 16 Oktober. Jumlah itu lebih tinggi dibanding 52 kejadian pada 13 Oktober, saat hotspot berada di puncak, atau naik sekitar 31 persen.
Luas terbakar tercatat 138,73 hektare (14 Oktober), 94,48 hektare (15 Oktober), lalu 886,68 hektare (16 Oktober), sekitar 9,4 kali lipat angka sehari sebelumnya. Dalam sehari itu saja tercatat sekitar 31 persen dari total luas terbakar Oktober, yang menjadi 2.891,68 hektare dari 1.604,26 hektare pada 11 Oktober. Sejak Januari, luas terbakar tercatat 19.170,57 hektare.
Lonjakan itu hampir seluruhnya berasal dari Kabupaten Pulang Pisau: 766 hektare dari 22 kejadian, atau sekitar 86 persen. Tanpa Pulang Pisau, luas terbakar 16 Oktober adalah 120,68 hektare dari 46 kejadian. Rata-rata luas per kejadian di Pulang Pisau sekitar 35 hektare, sedangkan di wilayah lain sekitar 2,6 hektare. Pulang Pisau hanya mencatat 237 hotspot pada hari itu.
Akibatnya, luas terbakar Pulang Pisau sepanjang 2026 naik dari 2.276,30 hektare (11 Oktober) menjadi 3.062,33 hektare, kedua terluas setelah Kotawaringin Timur (3.321,48 hektare). Untuk Oktober saja, Pulang Pisau mencatat 908,28 hektare, terluas di antara semua kabupaten/kota.
Hotspot satelit juga tidak menangkap semua kejadian. Pada 16 Oktober, lima wilayah mencatat hotspot nol tetapi tetap melaporkan total 23 kejadian dengan luas 48,28 hektare: Barito Utara (10 kejadian, 6,27 hektare), Barito Selatan (7 kejadian, 11,8 hektare), Barito Timur (2 kejadian, 5 hektare), Palangka Raya (2 kejadian, 8,66 hektare), dan Murung Raya (2 kejadian, 16,55 hektare).
Hotspot harian memang berfluktuasi tajam sebelum hujan: 1.277 (10 Oktober), 3.908 (11 Oktober), 7.932 (12 Oktober), lalu 15.931 (13 Oktober). Karena itu penurunan terakhir belum bisa disimpulkan sebagai efek hujan.
Kualitas udara belum pulih merata. Pada 16 Oktober, ISPU Palangka Raya (Jekan Raya) 1.267, Gunung Mas 832, Barito Selatan 616, Katingan 448, dan Kotawaringin Timur 416, semuanya di atas ambang berbahaya (300). Murung Raya turun tajam, dari 1.796 pada 11 Oktober menjadi 180 pada 16 Oktober. (HERMAWAN DP/j)
Sempat Dilanda Hujan Hotspot Kalteng Turun Tapi Luasan Karhutla Masih Tinggi
Bagikan:

PALANGKA RAYA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Iran Ancam Gunakan Taktik Baru jika AS Kembali Lancarkan Serangan
OJK Kalteng Tekankan Manfaat Nyata Inklusi Keuangan bagi Kesejahteraan Masyarakat
Dokter Jadi Tersangka Dugaan Pencabulan terhadap Anak Kandung Berusia 4 Tahun
Dampak Karhutla bagi Kesehatan Bukan Hanya Gangguan Pernapasan
Karhutla Ancam Habitat Orangutan di Kalteng, Patroli dan Evakuasi Satwa Diperkuat
Pria di Sampit Dilaporkan ke Polres Kotim atas Kasus Asusila terhadap Anak 8 Tahun
Komentar (0)
Memuat komentar…







