SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni mengakui kondisi Kalimantan sedang tidak baik-baik saja akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta minimnya hujan alami akibat fenomena El Nino.

"Pertama, saya menjadi saksi, bahwa Kalimantan kita memang sedang tidak baik-baik saja. Tantangan kita masih besar karena prediksi dari BMKG bahwa hujan alami di Kalimantan Tengah ini secara umum baru akan ada di November," kata Raja Juli.

Hal itu ia sampaikan saat meninjau penanganan karhutla di Jalan Ir Soekarno atau Lingkar Utara, Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Sabtu, 17 Oktober 2026.

Dirinya bersama rombongan disambut oleh Bupati Kotim Halikinnor beserta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kotim.

Raja Juli mengatakan, waktu turunnya hujan berbeda-beda di setiap wilayah. Di sejumlah daerah, hujan diperkirakan mulai terjadi pada dasarian pertama atau kedua November. Namun, wilayah lain diprediksi baru mendapatkan hujan menjelang akhir bulan.

"Ada yang dasarian 1, dasarian 2, dasarian 3. Ada yang sampai akhir November, misalkan di daerah Tanjung Puting itu malah dasarian 3 akan ada hujan alami," ujarnya.

Di tengah kondisi tersebut, Raja Juli menegaskan pemerintah tetap hadir dalam penanganan karhutla. Upaya dilakukan untuk memastikan api dapat dipadamkan sekaligus menekan dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat, terutama risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

"Saya juga ingin memastikan bahwa pemerintah tidak cuci tangan, tidak lepas tangan. Bahkan sebaliknya hadir semaksimal mungkin untuk memastikan bahwa api padam dan kemudian juga asap kemudian tidak membuat lebih banyak lagi masyarakat kita yang kena ISPA," tegasnya.

Ia mengatakan, penanganan karhutla melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah daerah, relawan, hingga masyarakat peduli api. Pemerintah juga mengandalkan sejumlah langkah dari udara untuk membantu mengatasi kebakaran di tengah terbatasnya hujan alami.

Salah satu upaya yang dilakukan ialah Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Operasi ini dilaksanakan oleh BMKG dengan dukungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Kehutanan, termasuk dukungan pendanaan dari kedua instansi tersebut.

Raja Juli menjelaskan, hujan yang turun di sejumlah wilayah Kalteng dalam dua hari terakhir merupakan hasil operasi modifikasi cuaca, bukan hujan alami. Hujan dilaporkan terjadi di Palangka Raya, Kotawaringin Barat, Pangkalan Bun, dan Kotim.

Namun, pelaksanaan OMC menghadapi kendala karena membutuhkan bibit awan yang dapat disemai. Saat fenomena El Nino, keberadaan bibit awan hujan di sejumlah wilayah, terutama bagian selatan Kalimantan, relatif terbatas.

"Repotnya operasi modifikasi cuaca ini, nanti mungkin BMKG bisa menceritakan, baru bisa dilaksanakan apabila ada bibit awan semai. Repotnya lagi, bibit awan ini yang jarang hadir di saat-saat El Nino, terutama juga di salah satunya di Kalimantan Tengah ini," jelasnya.

Ia menambahkan, teknologi saat ini belum mampu menciptakan bibit awan hujan secara langsung ketika kondisi atmosfer tidak mendukung. Karena itu, operasi modifikasi cuaca tetap bergantung pada ketersediaan awan yang bisa disemai.

"Kalbar alhamdulillah lebih banyak bibit awannya. Jadi semakin ke selatan, semakin di bawah, itu agak sulit. Jadi kalau di Kalimantan Barat itu yang masih jarang sekali hujan tuh di daerah Ketapang itu memang bibit awan hujannya tidak ada. Ini masih ilmu pengetahuan masih sampai di situ, Pak. Bisa operasi modifikasi cuaca, tetapi membuat awan semainya ini teknologi belum sampai di sana," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/j)