SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Relawan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Kotawaringin Timur (Kotim) Agus Mulyadi mengusulkan penggunaan cairan pemadam api Venom 200 dan formula Bios 44 kepada Menteri Kehutanan (Menhut) Rqja Juli Antoni sebagai solusi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di kawasan gambut Kalimantan Tengah yang berulang kali terbakar setiap tahun.

"Saya usul ke Kemenhut agar Bios 44 bisa dikembangkan sebagai solusi di tempat yang selalu terbakar tiap tahun, sekaligus menjadi penyubur tanah. Selain itu, perlu pengadaan Venom 200 untuk posko karhutla se-Kalimantan Tengah agar penanganan kebakaran lebih efektif dan wilayah kita bisa lebih cepat bebas asap," kata Agus Mulyadi, Minggu, 18 Oktober 2026.

Dirinya telah menyampaikan usulan tersebut langsung kepada Menhut Raja Juli Antoni saat berkunjung ke Sampit, pada Sabtu, 17 Oktober 2026.

Agus menilai, penanganan karhutla di lahan gambut membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada pemadaman saat api muncul, tetapi juga pencegahan agar lahan yang sama tidak terus terbakar.

Dua teknologi yang diusulkannya memiliki fungsi berbeda. Venom 200 digunakan untuk membantu memadamkan api secara langsung, sedangkan Bios 44 diusulkan untuk mendukung pengolahan lahan gambut agar lebih tahan terhadap kebakaran sekaligus meningkatkan kesuburan tanah.

Agus menjelaskan, Venom 200 merupakan cairan yang diperkenalkan sebagai racun api oleh Manggala Agni, pasukan pemadam kebakaran hutan dan lahan di bawah Kementerian Kehutanan.

Ia mengatakan, BPBD Kotim pernah memperoleh cairan tersebut dari Palangka Raya sebanyak beberapa puluh tangki. Penggunaannya dilakukan dengan mencampurkan cairan ke dalam tangki unit pemadam, kemudian menyemprotkannya ke titik api.

Cairan tersebut menghasilkan buih tebal yang menutupi api sehingga membantu menghentikan pembakaran. Ia yang merupakan pensiunan Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kotim, mengaku pernah menginstruksikan regu pemadam menggunakan Venom 200 saat menangani kebakaran di jalan samping jembatan patah.

"Cairan tersebut dicampur dalam tangki unit pemadam dan disemprotkan ke api, maka akan timbul buih yang banyak, tebal, dan menutupi api sehingga langsung mati. Jadi, tidak berulang memadam setiap hari pada tempat yang sama," ujarnya.

Agus menyebut, sebelum penggunaan cairan itu, pemadaman di lokasi tersebut berlangsung lebih dari sepekan. Setelah Venom 200 digunakan, sejumlah titik api berhasil dipadamkan dan menurut pengamatannya tidak kembali menyala.

"Ada perusahaan Jepang tahun lalu membawa zat tersebut yang mirip venom 200 cara kerja sama namun berasal dari bahan singkong dan alami namun harga cukup mahal. Sedangkan venom 200 harga Rp.60.000 per liter," imbuhnya. 

Selain itu, pria yang saat ini masih diperbantukan menjadi Koordinator Lapangan (Korlap) Posko Karhutla Kotim tersebut juga mengusulkan pengembangan Bios 44 sebagai upaya pencegahan karhutla jangka panjang.

Ia menjelaskan, formula tersebut merupakan temuan yang dikembangkan oleh jajaran TNI di wilayah Batujajar, Sumatera Selatan, dan pernah diperkenalkan dalam penanganan karhutla di Kalimantan Tengah.

Bios 44 berupa formula cair yang mengandung mikroorganisme. Berdasarkan penjelasan yang pernah diterimanya saat pelatihan di Palangka Raya, formula tersebut dikembangkan terlebih dahulu selama sekitar satu hingga dua minggu, kemudian dicampurkan dengan air dan diaplikasikan ke tanah gambut.

Ia menyebut penerapan formula tersebut diklaim dapat membuat gambut lebih lengket dan mengeras sehingga lebih sulit terbakar, sekaligus membantu menyuburkan tanah.

Agus mengatakan, dirinya bersama Pasiops Kodim, Kapten B Gunadi, pernah mengikuti pelatihan penggunaan Bios 44 di Palangka Raya saat masih mewakili BPBD. Namun, setelah pelatihan, zat tersebut tidak diberikan dan program tersebut tidak berlanjut di Kotim.

"Bios 44 belum pernah diuji di Kotim, tapi pernah dicoba di Palangka Raya. Saya mewakili dari BPBD dan Pasiops Kapten B Gunadi dari Kodim dilatih menggunakan itu di Palangka Raya. Tapi bahannya tidak diberi dan tidak ada tindak lanjut," bebernya.

Ia menambahkan, Menhut sempat menanyakan Bios 44 kepada pihak Korem 102/Panju Panjung. Menurut Agus, Menteri Kehutanan menyampaikan bahwa program tersebut dinilai bagus dan berhasil mengendalikan karhutla di lahan gambut.

Agus berharap pemerintah pusat dapat menindaklanjuti gagasan itu melalui kajian dan uji coba yang lebih luas, khususnya di kawasan yang berulang kali mengalami kebakaran.

Agus berharap Kementerian Kehutanan dapat mendorong koordinasi lintas instansi, termasuk dengan dinas yang membidangi pertanian, untuk mengkaji kemungkinan penerapan Bios 44 pada lahan gambut milik masyarakat.

"Tujuannya usulan agar melalui kebijakan Kemenhut kerja Dinas Pertanian mewajibkan kepada warga pemilik lahan gambut mengolah tahan dengan Bios 44 mencegah karhutla dan menyediakan bahan Bios yang murah dan mudah didapat. Serta pengadaan Venom 200 untuk posko karhutla se-Kalteng agar efektif penanganan karhutla dan cepat bebas asap," tandasnya. (DEWI PATMALASARI/y)