BORNEONEWS, Kuala Kapuas – Seseorang yang terus berjudi meski kehilangan uang, pekerjaan, atau hubungan keluarga kerap dianggap bodoh dan tidak mampu mengendalikan diri. Padahal, kecanduan judi online atau judol tidak sesederhana itu. Seseorang dapat memahami bahayanya, tetapi tetap kesulitan menghentikan perilaku tersebut.
Kondisi ini dikenal sebagai gangguan perjudian atau gambling disorder. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengakuinya sebagai gangguan perilaku adiktif. Tandanya antara lain kesulitan mengendalikan perjudian, menempatkannya di atas kepentingan lain, dan terus bermain meskipun akibat buruknya sudah nyata.
Artinya, persoalan tidak semata-mata terletak pada apakah seseorang mengetahui risiko perjudian. Masalah muncul ketika dorongan untuk terus bermain sulit dikendalikan, bahkan saat seseorang menyadari bahwa perilaku tersebut merusak keuangan, pekerjaan, dan kehidupan keluarganya.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Neuroscience & Biobehavioral Reviews pada 2021 menemukan perbedaan pada sejumlah wilayah otak orang dengan gangguan perjudian. Salah satunya adalah korteks prefrontal, bagian otak yang berperan dalam pengambilan keputusan dan pengendalian perilaku.
Bagian otak tersebut membantu manusia mempertimbangkan akibat sebelum bertindak dan menahan dorongan demi tujuan jangka panjang. Pada orang dengan gangguan perjudian, penelitian menemukan perbedaan struktur atau aktivitas di sejumlah wilayah yang berkaitan dengan proses tersebut. Namun, temuan pada kelompok penelitian tidak berarti setiap pemain judol mengalami perubahan otak yang sama.
Selain itu, ada dopamin, zat kimia pembawa pesan di otak yang berperan dalam motivasi dan pembelajaran dari pengalaman. Kemenangan yang tidak terduga dapat membuat seseorang terdorong untuk mencoba lagi. Meski demikian, kecanduan judi tidak disebabkan oleh dopamin semata, dan mekanisme yang terlibat masih terus diteliti.
Pada permainan slot, putaran yang cepat dan hasil yang tidak pasti dapat membuat pemain terus menantikan kemenangan berikutnya. Ketika kalah, sebagian pemain berusaha mengejar uang yang hilang dengan kembali bermain. Jika pola ini berulang, seseorang dapat semakin sulit menghentikan kebiasaannya meskipun kerugian terus bertambah.
Karena itu, kecanduan judi tidak cukup dijelaskan dengan menyebut seseorang bodoh atau lemah kemauan. Latar belakang pendidikan dan kecerdasan tidak otomatis membuat seseorang kebal terhadap gangguan perilaku adiktif. Memahami risiko dan mampu mengendalikan dorongan merupakan dua hal yang berbeda.
Gangguan perjudian dapat memerlukan bantuan profesional, termasuk terapi psikologis seperti terapi perilaku kognitif. Penanganan membantu seseorang mengenali pemicu, mengubah pola pikir yang mendorong perjudian, dan membangun cara untuk mencegah perilaku tersebut berulang. Memahami kecanduan sebagai masalah kesehatan bukan berarti menghapus tanggung jawab pribadi, melainkan membuka jalan menuju pemulihan. (SABRIANOOR/H)









