BORNEONEWS, Kuala Kapuas – Sepasang sepatu polos bisa menjadi lebih dari sekadar alas kaki. Di tangan warga binaan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kapuas, sepatu itu menjadi media untuk menuangkan kreativitas sekaligus mengasah keterampilan yang berpotensi menghasilkan pendapatan setelah mereka bebas.
Keterampilan tersebut diasah melalui pelatihan melukis sepatu yang digelar di area bimbingan kerja Rutan Kapuas baru-baru ini. Para peserta belajar mengubah sepatu polos menjadi produk dengan motif dan warna sesuai kreativitas masing-masing.
Pelatihan dimulai dari pembuatan sketsa, pencampuran warna, hingga tahap penyelesaian atau finishing. Dengan menggunakan kuas dan cat khusus tekstil, warga binaan mempelajari teknik melukis di atas permukaan sepatu agar menghasilkan karya yang menarik dan tahan lama.
Kegiatan ini membuka ruang bagi warga binaan untuk mengembangkan kemampuan di luar rutinitas selama menjalani masa hukuman. Keterampilan seni yang dipelajari juga dapat menjadi modal untuk mencoba peluang usaha atau bekerja di bidang kreatif setelah kembali ke masyarakat.
Kepala Rutan Kapuas, Daniel Kristianto, mengatakan pelatihan tersebut merupakan bagian dari pembinaan kemandirian yang diarahkan agar warga binaan tetap produktif selama menjalani masa pidana.
“Kami ingin memastikan bahwa waktu yang mereka jalani di dalam rutan tidak terbuang sia-sia. Melalui pelatihan sepatu lukis ini, kami memfasilitasi mereka agar tetap produktif dan mampu menghasilkan karya seni yang memiliki daya saing tinggi di luar sana,” ujar Daniel, Minggu, 18 Oktober 2026.
Tak berhenti pada proses belajar, hasil karya warga binaan itu juga direncanakan untuk dipasarkan kepada masyarakat. Rencana tersebut membuka peluang agar keterampilan yang dipelajari tidak hanya berhenti sebagai aktivitas pelatihan, tetapi dapat berkembang menjadi kegiatan produktif dengan nilai ekonomi.
Menurut rencana Rutan Kapuas, sebagian hasil penjualan produk akan dikelola untuk memberikan premi atau upah kepada warga binaan yang membuatnya. Sebagian lainnya direncanakan disetorkan sebagai penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Namun, mekanisme pemasaran dan realisasi penjualan belum dijelaskan lebih lanjut dalam informasi yang tersedia.
Pengembangan keterampilan seperti melukis sepatu dapat menjadi salah satu bekal bagi warga binaan untuk membangun kemandirian ekonomi setelah menjalani masa pidana. Peluang tersebut tentu bergantung pada kualitas produk, konsistensi produksi, serta kemampuan menjangkau pasar ketika hasil karya mulai dipasarkan.
Melalui pelatihan ini, Rutan Kapuas berupaya menghubungkan pembinaan di dalam rutan dengan peluang produktif di luar. Tantangan berikutnya adalah memastikan keterampilan yang diperoleh dapat berlanjut menjadi kemampuan kerja atau usaha yang benar-benar memberi manfaat bagi warga binaan setelah kembali ke tengah masyarakat. (SABRIANOOR/H)









