BORNEONEWS, Palangka Raya – Sebanyak 310 personel gabungan masih dikerahkan untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), Kabupaten Kotawaringin Barat.
Kapendam XXII/Tambun Bungai Kolonel Arh Dodo Sahata Simanulang mengatakan, personel berasal dari TNI, Polri, Balai TNTP, tenaga kesehatan, organisasi masyarakat, relawan, pelaku wisata, dan masyarakat Desa Sekonyer.
“Sinergi lintas sektor ini menjadi kunci penting dalam upaya penanganan kebakaran di kawasan yang memiliki akses terbatas tersebut,” kata Dodo, Senin, 19 Oktober 2026.
Dari total personel, TNI mengerahkan 101 orang, TNTP 20 orang, Polri 30 orang, relawan masyarakat 15 orang, Dinkes/Puskesmas Kumai empat orang, Himpunan Pramuwisata Indonesia 36 orang, Yayasan Orangutan Hijau Kalimantan 26 orang, HKWK 14 orang, ASTINDO dua orang, dan sejumlah unsur lainnya.
Masyarakat Desa Sekonyer yang tergabung dalam Pokdarwis, MMP, dan MPA juga mengerahkan 30 orang.
Personel ditempatkan di beberapa titik, mulai dari Pos Shelter, Dermaga Tanjung Harapan, tim perintisan jalan, empat titik utama kebakaran, hingga Posko Desa Sekonyer.
Upaya pemadaman juga difokuskan pada pembukaan akses dan suplai air menuju lokasi kebakaran.
Jalur pendekat kedua dari Tanjung Harapan menuju Baguru sepanjang sekitar 1,5 kilometer telah dirintis.
Dua unit mesin Dongfeng turut dioperasikan. Satu unit digunakan untuk mengalirkan air ke titik Shelter Sungai Hulu, sedangkan satu unit lainnya masih dalam proses pemasangan saluran menuju Baguru.
Petugas juga melakukan penyiraman dan pendinginan lahan untuk mencegah api kembali muncul di sekitar Shelter.
Selain itu, kolam terpal penampung air ditambah di sektor kanan Pos Shelter Sungai Bulu. Peralatan juga didistribusikan ke dua sektor utama, yakni Shelter dan Baguru.
Kondisi kesehatan personel turut dipantau selama operasi berlangsung.
Satu personel Tim Zeni, Prada Rizky, dilaporkan mengalami sesak napas pada 18 Oktober 2026. Ia telah mendapatkan penanganan menggunakan nebulizer dan kini diistirahatkan berdasarkan rekomendasi tim kesehatan.
Penanganan karhutla di kawasan TNTP masih terus dilakukan dengan melibatkan berbagai unsur karena akses menuju sejumlah titik kebakaran terbatas dan membutuhkan dukungan logistik serta suplai air. (PATHUR/j)









