PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Satu orangutan betina bernama Zahra dievakuasi dari sekitar permukiman warga di KM 14 Mendawai Seberang, Kecamatan Arut Selatan, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Minggu, 18 Oktober 2026. Orangutan berusia sekitar 30 tahun dengan berat badan 30 kilogram tersebut ditemukan warga saat sedang memakan buah nanas di sekitar permukiman.

Laporan mengenai kemunculan orangutan itu diterima petugas konservasi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah pada pukul 11.53 WIB. Petugas kemudian melakukan pemantauan untuk memastikan keberadaan satwa tersebut sebelum melakukan tindakan penyelamatan.

Kepala Seksi Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah II Pangkalan Bun, Handi Nasoka, Senin, 19 Oktober 2026 bersama tim terkait berkoordinasi dengan mitra penyelamat dari Orangutan Foundation International (OFI) untuk menangani kemunculan orangutan tersebut.

"Dalam proses pemantauan, Zahra belum terlihat pada pukul 15.30 WIB. Namun, satwa itu kembali muncul sekitar pukul 16.15 WIB sehingga tim dapat melanjutkan upaya evakuasi," jelas Handi Nasoka.

Handi Nasoka menjelaskan, tim OFI tiba di lokasi pada pukul 17.40 WIB dan melakukan pembiusan terhadap Zahra untuk memudahkan proses penyelamatan. Setelah berhasil diamankan, orangutan tersebut dievakuasi guna menjalani pemeriksaan kesehatan dan penanganan lebih lanjut.

"Berdasarkan identifikasi petugas, Zahra merupakan orangutan betina dengan nomor microchip 972 00 00000 86006. Satwa tersebut selanjutnya dibawa ke OCCQ untuk menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum ditentukan penanganan berikutnya," jelas Handi Nasoka.

Handi Nasoka mengatakan, dari pemeriksaan fisik awal, petugas tidak menemukan luka bakar maupun cedera fisik lainnya pada tubuh Zahra. Meski demikian, pemeriksaan lebih lanjut tetap diperlukan untuk mengetahui kondisi kesehatannya secara menyeluruh.

"Petugas juga mengambil sampel darah Zahra untuk dikirim ke laboratorium. Hasil pemeriksaan tersebut masih ditunggu sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan penanganan lanjutan, termasuk menunggu arahan pimpinan," jelas Handi Nasoka.

Kemunculan orangutan di sekitar permukiman warga ini terjadi di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berpotensi mengganggu kehidupan satwa liar. Kebakaran dapat menyebabkan orangutan kehilangan habitat, sumber pakan, serta tempat berlindung.

Namun, menurut Handi Nasoka, hingga proses evakuasi dilakukan, belum ada kepastian bahwa kemunculan Zahra di Mendawai Seberang berkaitan langsung dengan karhutla. 

"Karena itu, diperlukan pemeriksaan dan penelusuran lebih lanjut untuk mengetahui faktor yang menyebabkan satwa tersebut berada di sekitar permukiman.Masyarakat diimbau segera melaporkan kepada petugas konservasi apabila menemukan orangutan atau satwa liar lainnya di sekitar permukiman. Warga juga diminta tidak menangkap, mengejar, maupun mendekati satwa secara langsung agar tidak membahayakan keselamatan manusia maupun satwa tersebut," jelas Handi Nasoka. (WAHYU KRIDA/j)