JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan terus mengganggu operasional penerbangan di Kalimantan Tengah. Sedikitnya tiga bandara di provinsi ini terdampak penurunan jarak pandang, sementara puluhan penerbangan telah dibatalkan.

Di Bandara H. Asan Sampit, sebanyak 51 penerbangan tercatat dibatalkan sejak 1 hingga 17 Oktober 2026 akibat kabut asap. Pembatalan melibatkan penerbangan NAM Air, Wings Air, dan Super Air Jet.

Gangguan serupa terjadi di Bandara Iskandar Pangkalan Bun. Pembatalan penerbangan NAM Air dan Batik Air dilakukan karena jarak pandang tidak memenuhi pertimbangan keselamatan penerbangan. Pada 20 Oktober 2026, jarak pandang di Bandara Iskandar bahkan dilaporkan rata-rata hanya sekitar 150 meter.

Sementara hasil pemantauan periode 12–18 Oktober menunjukkan jarak pandang minimum di sejumlah bandara Kalteng sempat turun sangat rendah. Bandara H. Asan Sampit tercatat hanya 50 meter, Bandara Iskandar 80 meter, dan Bandara Haji Muhammad Sidik di Barito Utara 100 meter.

Di tengah kondisi tersebut, Kementerian Perhubungan memperketat pemantauan dan pengawasan operasional penerbangan di wilayah terdampak karhutla.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Lukman F. Laisa mengatakan keputusan operasional harus tetap mengutamakan keselamatan dengan mempertimbangkan kondisi cuaca dan jarak pandang.

“Kami terus memperkuat pemantauan dan pengawasan operasional penerbangan menyusul dampak karhutla yang menyebabkan gangguan penerbangan di sejumlah wilayah Indonesia,” kata Lukman, Selasa, 20 Oktober 2026.

Secara nasional, sebanyak 2.604 penerbangan berjadwal domestik tercatat terdampak karhutla sejak 11 Agustus hingga 19 Oktober 2026.

Jumlah tersebut meningkat 146 penerbangan dibandingkan catatan per 17 Oktober yang mencapai 2.458 penerbangan.

Dari total itu, 1.129 penerbangan mengalami keterlambatan dan 1.420 penerbangan dibatalkan atau ditunda.

Selain itu, 23 penerbangan dialihkan ke bandar udara lain, enam penerbangan kembali ke bandara keberangkatan, dan 26 penerbangan dimajukan jadwalnya.

“Karena itu, penyesuaian jadwal penerbangan dapat dilakukan apabila kondisi di lapangan tidak memungkinkan operasional berlangsung secara aman,” ujar Lukman.

Kabut asap dapat mengurangi jarak pandang saat pesawat melakukan pendaratan, lepas landas, maupun pergerakan di sekitar bandara. Kondisi tersebut menjadi dasar maskapai dan pengelola bandara mengambil keputusan penundaan maupun pembatalan.

Kemenhub meminta bandara di wilayah terdampak menerapkan Low Visibility Procedures, meningkatkan koordinasi dengan AirNav Indonesia dan BMKG, serta menerbitkan Notice to Airmen apabila dibutuhkan.

Penumpang juga diminta memeriksa perkembangan jadwal melalui kanal resmi maskapai sebelum menuju bandara.

Di sisi lain, bandara di wilayah terdampak juga mendukung operasi penanganan karhutla. Pada 20 April hingga 17 Oktober 2026, operasi water bombing secara nasional telah mencapai 5.218 flight cycle menggunakan 38 pesawat dari 11 operator. (*/j)