KUALA PEMBUANG –

BORNEONEWS, Jakarta – Pelaksanaan operasi modifikasi cuaca menggunakan dry ice di Kalimantan Tengah kini mengikuti prosedur yang diperketat setelah muncul laporan masyarakat mengenai material yang jatuh ke kawasan permukiman.

Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Panjaitan mengatakan evaluasi dilakukan dengan memasang saringan khusus pada corong penabur dan memperkecil ukuran dry ice agar lebih cepat menguap di udara.

Langkah tersebut dilakukan karena dry ice atau karbon dioksida padat memiliki suhu ekstrem hingga minus 78,5 derajat Celsius.

BNPB ingin memastikan material yang disemai dari pesawat habis menguap sebelum mencapai permukaan.

Operasi berbasis dry ice mulai diperluas ke Kalimantan Tengah pada 19 Oktober 2026 menggunakan pesawat Casa 212-200/A-2107.

Teknologi tersebut digunakan untuk membantu mengurai penumpukan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan.

Berton menjelaskan dry ice disemai pada lapisan inversi di ketinggian sekitar 5.000–7.000 kaki.

Pendinginan cepat di atmosfer diharapkan membantu mendorong asap yang terperangkap di lapisan bawah agar naik dan menyebar.

Sebelumnya, metode serupa telah digunakan di Sumatera Selatan sejak 16 Oktober 2026.

BNPB menyebut uji coba di sekitar Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang menunjukkan peningkatan jarak pandang dibandingkan hari sebelumnya setelah penyemaian dry ice berukuran sekitar tiga milimeter.

Penerapan teknologi tersebut menjadi bagian dari operasi udara penanganan karhutla di enam provinsi prioritas, termasuk Kalimantan Tengah.

Secara nasional, sebanyak 49 armada udara dikerahkan, terdiri atas 32 unit untuk water bombing dan 17 pesawat untuk patroli serta OMC.

Hingga 19 Oktober 2026, BNPB mencatat area terbakar yang berhasil dipadamkan di enam provinsi prioritas mencapai 454,25 hektare dari target penanganan 1.024,33 hektare.

“Mencapai 454,25 hektare. Masyarakat diimbau untuk tetap mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan serta tidak melakukan aktivitas pemicu kebakaran hutan demi menjaga keselamatan bersama,” kata Berton, Selasa, 20 Oktober 2026.

ANTARA