BORNEONEWS, Palangka Raya – Kabut asap seperti yang terjadi pada akhir tahun 2015 lalu dengan kerugian besar yang dibawanya, bukanlah sebuah takdir tapi sebuah bencana yang bisa dicegah. Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Kalimantan Tengah berharap masyarakat tidak melupakan hal itu.
“Karhutla bukan takdir namun satu bencana yang bisa dicegah,” kata Manager Advokasi dan Kampanye Walhi Kalteng, Aryo Nugroho Waluyo di Palangka Raya, Minggu (22/1/2017).
Namun yang menjadi masalah kata dia, begitu cepatnya masyarakat melupakan bencana musiman ini. Padahal berdasarkan data, untuk Kalteng sendiri, bencana ini hampir rutin terjadi dalam 18 tahun terakhir.
“Korban sudah banyak berjatuhan begitupula dengan kerugian materil. Bencana karhutla sudah berumur 18 tahun sejak tahun 1997 yang kita ketahui,” papar Aryo Nugroho.
Meski di tahun 2016 jumlah titik api menurun dan hampir tidak ada kabut asap, kata Aryo, semua pihak untuk tidak lengah. Jelas dia, tujuan itu pulalah yang membuat sejumlah organisasi lingkungan di Kalteng mengajukan gugatan warga negara terhadap 7 lembaga pemerintah.
“Dan tahun 2017 ini merupakan tantangan bagi para penegak hukum untuk menyasar wilayah ijin koorporasi yang terbakar,” tukasnya. (RONI SAHALA/B-8)








