BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Rendahnya produksi dan stok minyak sawit global akan membuat pasokan di pasar akan berkurang, yang berimbas pada kenaikan harga. Untuk mengatasi kekurangan pasok minyak sawit, pasar akan diisi minyak kedelai.
"Minyak kedelai akan mengambil pangsa pasar dari minyak sawit seiring dengan turunnya stok minyak sawit. Stok pada akhir Januari akan sangat ketat," kata analis komoditas, Dorab Mistry, mengacu pada data cadangan minyak sawit Malaysia saat ini.
Sementara itu, Mistry, seperti dikutip Investing.com, juga menyebutkan bahwa produksi minyak sawit Indonesia pada 2017 akan berada di level 33,5 juta hingga 34 juta ton, naik dari 33 juta hingga 33,5 juta ton pada proyeksi sebelumnya.
Ia juga menyebutkan spread minyak kedelai terhadap minyak sawit pada akhir pekan lalu sekitar $82, turun dari $150 pada awal Desember 2016.
Harga minyak kedelai untuk kontrak Maret, BOH7, di Chicago Board of Trade (CBOT) telah turun pada bulan lalu, sehingga selisihnya dengan minyak sawit semakin menipis.
Mistry, yang juga direktur perusahaan makanan asal India, Godrej International, mengatakan bahwa harga minyak sawit akan meningkat hingga 3.300 ringgit pada Maret, untuk kemudian melemah menjadi 2.500 ringgit pada Juni atau Juli, lebih tinggi dari prediksi sebelumnya di angka 2.400 ringgit.
"Pasar akan memberikan reaksi cepat ketika muncul sinyal adanya kenaikan produksi, yang kemungkinan terjadi pada awal atau medio Maret," kata Mistry.
"Dukungan untuk harga minyak sawit mungkin datang dari program biodiesel AS dan negara lainnya. Tapi biodiesel juga akan mendorong harga minyak kedelai di CBOT, yang juga akan membantu penguatan harga minyak sawit," ucapnya. (NEDELYA RAMADHANI/m)








