BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Selama ini minyak sawit selalu dikambinghitamkan sebagai pemicu berbagai masalah di dunia Barat, mulai dari kesehatan hingga lingkungan. Sayangnya, tudingan itu tak disertai fakta atau informasi yang benar.

CEO Malaysian Palm Oil Council (MPOC) Dr Kalyana Sundram mengatakan bahwa kampanye negatif terhadap sawit itu sudah lama dilakukan negara-negara Barat, yang dinilainya lebih dipicu oleh semakin meluasnya penggunaan minyak sawit di Eropa, yang ditakutkan mengalahkan komoditas andalan mereka, yakni minyak kedelai dan minyak nabati jenis lain.

Mengaca pada kampanye negatif terbaru yang dilancarkan Barat melalui berbagai media berpengaruh adalah tudingan bahwa selai hazelnut dan cokelat merek Nutella buatan Ferrero, Italia, dapat memicu kanker. Kalyana menyebut isu ini adalah hal kasik yang selalu didengungkan masyarakat Barat.

Belum lama ini, Badan Pengawas Keamanan Makanan Eropa (EFSA) menyebutkan sawit berpotensi mengandung kontaminan karsinogenik, yang merupakan pemicu kanker. Potensi itu muncul ketika minyak nabati yang berasal dari sawit diolah dengan suhu melebihi 200 derajat Celcius. Untuk itu, EFSA merekomendasikan konsumen untuk tidak mengonsumsi makanan yang mengandung minyak nabati sawit.

Senyawa kimia glycidyl fatty acid esters (GE) dan 3-monochloropropanediol (3-MCPD) yang dituding sebagai pemicu kanker, sebenarnya terkandung di semua jenis minyak nabati, termasuk minyak zaitun, dan senyawa ini tak terbukti sebagai pemicu kanker.

Selain fakta di atas, Kalyana juga menyebutkan bahwa Ferrero S.p.A Italy, adalah produsen Nutella yang sudah beroperasi selama 70 tahun. Dengan begitu, pengalaman panjang itu tak akan membuat perusahaan itu ceroboh memilih minyak sawit sebagai bahan campuran selai. Apalagi produk sawit dalam pengolahannya sudah melalui tahapan panjang dan mengikuti standar keamanan makanan yang ketat sebelum dijadikan campuran bahan makanan atau minyak nabati.

Bahkan, berdasarkan uji laboratorium, minyak sawit sudah mendekati nol untuk kadar 3-MCPD dan GE.

Padahal, kata Kalyana seperti dilansir MPOC, kandungan 3-MCPD dan GE ada dalam berbagai jenis minyak dan lemak, tak hanya minyak sawit.

Menurut dia, isu ini sudah lama memicu dilakukannya evaluasi tak hanya di Eropa, tapi juga laboratorium milik Malaysian Palm Oil Board (MPOB).

Berdasarkan uji lab, memang benar kandungan dua kontaminan itu tinggi di minyak sawit, tapi setelah dilakukan pengolahan dalam beberapa tahapan, kontaminan itu nyaris lenyap.

Itulah mengapa kemudian minyak sawit banyak dipakai sebagai bahan campuran dalam formulasi bayi. Jadi, dengan ini terbukti bahwa minyak sawit olahan sudah aman, karena digunakan sebagai bahan campuran makanan bayi.

Bahkan EFSA sudah mengakui bahwa banyak perusahaan produk makanan bayi yang mengandung sawit. (NEDELYA RAMADHANI/m)