BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Presiden AS Donald Trump baru saja menandatangani keputusan untuk menarik diri dari Kemitraan Trans-Pasifik (TPP). Langkah AS itu jelas menjadi pukulan telak bagi para mitra AS di Asia selama ini.
Setelah Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyatakan realisasi ekspor kelapa sawit dan produk turunannya ke AS bakal terpengaruh kebijakan pemerintahan Trump, kini Malaysia mengungkapkan kekhawatiran yang sama.
Menteri Perusahaan Perladangan dan Komoditi Malaysia Datuk Seri Mah Siew Keong mengatakan keputusan Trump itu akan berimbas pada target ekspor minyak sawit mentah Malaysia senilai RM20 miliar (sekitar Rp6 triliun) ke 12 negara anggota TPP hingga 2021.
Menurut Mah, saat ini Malaysia menghasilkan RM13 miliar dari penjualan CPO ke 12 negara anggota TPP.
Namun, meski akan ada kemunduran bagi kinerja ekspor CPO, Mah mengatakan pihaknya berharap ekspor CPO akan tumbuh 5-8 persen tahun ini, dan harga rata-rata akan menyentuh level RM2.700 per metrik ton pada 2017.
Angka itu didasarkan pada giatnya Malaysia meningkatkan ekspor minyak sawit ke negara-negara seperti India, dan juga rencana untuk membidik Iran.
Sementara itu, Data Kementerian Perdagangan mencatat, tahun lalu volume ekspor sawit Indonesia sebesar 25,7 juta ton atau turun 2%. Sebanyak 75,6% di antaranya produk sawit ekspor merupakan produk hilir, penurunan terjadi akibat penggunaan biodiesel di dalam negeri sebanyak 2,5 juta kiloliter. (NEDELYA RAMADHANI/m)








