BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Kebijakan proteksionisme perdagangan pemerintah Amerika Serikat (AS) oleh Presiden Donald Trump akan mempengaruhi kinerja ekspor crude palm oil (CPO) Indonesia ke AS, khususnya biodiesel.

"Selama ini Pemerintah AS melakukan subsidi sehingga harga biodiesel terpaut sekitar Rp4.500 per kilogram (kg), lebih murah ketimbang harga minyak dari fosil," kata Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Bayu Krisnamurthi, kepada pers di Jakarta, Rabu (25/1/2016).

Ekspor biodiesel Indonesia ke AS dari Januari hingga November tahun lalu, menurut Bayu, mencapai 1,2 juta ton. Pasar biodiesel Indonesia ke AS tergolong baru berkembang dan sangat prospektif sehingga perlu mendapat perhatian serius.

"Penggunaan biodisel di AS bisa berkembang karena mendapatkan subsidi dari pemerintah AS. Jadi jika kebijakan anggaran Trump menghapus subsidi, akan membuat ekspor kita sulit bersaing di AS dan kami dalam posisi menunggu kebijakan Trump terkait biodiesel," papar dia.

Bayu menambahkan, ada selisih sekitar US$30 sen hingga US$40 sen per kg, lebih murah ketimbang harga minyak bumi berbahan baku fosil. Perbedaan selisih harga ini sangat signifikan. Jika Trump menghapus subsidi ini, maka ekspor biodiesel ke AS berpotensi tidak lagi kompetitif dengan harga minyak bumi dan akan turun drastis.

"Diharapkan Trump tidak menghapus subsidi biodiesel sehingga ekspor biodiesel Indonesia ke AS akan meningkat," ujar Bayu. (NEDELYA RAMADHANI/m)