BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pekan ini bangsa Tionghoa merayakan Tahun Baru Imlek. Lantas, bagaimana peluang minyak sawit memasuki Tahun Ayam Jantan?
Menurut para analis dan pelaku pasar, seperti dikutip Blomberg, tahun ini akan diwarnai dengan pulihnya produksi minyak sawit, yang bakal berimbas pada turunnya harga.
Tapi saat bersamaan, bangsa Tionghoa yang tengah merayakan tahun baru akan banyak menyerap minyak nabati untuk berbagai kebutuhan mereka, terutama minyak sawit yang harganya turun akibat membaiknya produksi seperti disebutkan di atas.
Meski belum akan banyak warga Tionghoa membeli minyak sawit karena sekarang harganya masih tinggi, tapi mulai semester kedua permintaan komoditas ini dari Tiongkok bakal tinggi seiring dengan turunnya harga akibat melimpahnya pasokan.
Warga Tionghoa akan mulai merayakan Imlek pada 27 Januari, dan mereka biasanya menggunakan minyak sawit untuk berbagai keperluan memasak, membuat kue dan lainnya.
Impor minyak sawit Tionghoa 24 persen menjadi 4,48 juta metrik ton pada 2016, yang terendah sejak 2005, seiring melonjaknya harga hingga 25 persen setelah El Nino menghambat pasokan di Indonesia dan Malaysia.
Melemahnya yuan dan stabilnya harga minyak kanola juga ikut mengurangi daya tarik minyak sawit bagi pembeli lokal.
"Tiongkok , seperti juga India, adalah pasar yang sensitif harga," kata chairman LMC International Ltd., James Fray, beberapa waktu lalu.
“Ketika pasokan di pasar melimpah karena produksi pulih, Tiongkok akan membeli lebih banyak minyak sawit.
El Nino antara 2015 hingga awal 2016 telah memangkas produksi minyak sawit global hingga 6,8 juta ton tahun lalu, ungkap Ling Ah Hong, direktur di perusahaan konsultan pertanian Malaysia, Ganling Sdn.
Dan ketika hujan kembali muncul, produksi pada semester kedua tahun ini akan pulih dengan pertumbuhan dua digit tiap bulan, kata Ling.
Meningkatnya pasokan akan menekan harga, yang mungkin bisa turun hingga 2.200 ringgit ($496) menuju kuartal keempat tahun ini, imbuhnya.
Sementara itu, futures minyak sawit untuk kontrak April, 1FCPOc3, di Bursa Malaysia Derivatives Exchange, Rabu (25/1/2017), turun 0,8 persen menjadi 3.125 ringgit ($704,30) per ton. (NEDELYA RAMADHANI/m)








