BORNEONEWS, Sampit - Dinas Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (Diskop UMKM) Kabupaten Kotim diminta lebih kreatif dalam menciptakan dan membina pelaku usaha kecil menengah. Masih banyak potensi usaha kecil yang belum tersentuh pembinaan dari instansi terkait.

"Saya sepakat apabila dikatakan Diskop UMKM belum memberikan perhatian yang memadai terhadap pelaku usaha kecil dan menengah," kata anggota Komisi II DPRD Kotim Otjim Supriatna, Kamis (26/1/2017).

Padahal, lanjut dia, SKPD ini memiliki tugas dan tanggung jawab besar untuk menggerakkan UMKM agar tumbuh dan mampu menghadapi perkembangan pasar. Jika pelaku usaha kecil dan menengah tidak mendapat perhatian dan bimbingan secara maksimal, maka mereka akan sulit untuk berkembang.

"Harapan kami di Komisi II DPRD, bahkan dalam setiap rapat koordinasi maupun pembahasan anggaran kami sampaikan, diskop UMKM jangan hanya memiliki konsep, tetapi harus benar-benar turun ke lapangan menggali akar persolan mengapa UMKM sulit berkembang," cetus dia.

Menurutnya, banyak persoalan yang dihadapi pelaku usaha kecil dan menengah, mulai dari sulitnya akses terhadap permodalan seperti bank dan sebagainya. Sehingga pelaku UMKM banyak yang terjerat rentenir maupun pinjaman di koperasi yang memberatkan. Kendala lainnya yakni terkait dengan pengemasan dan pemasaran produk.

"Banyak produk usaha kecil dan menengah di daerah kita yang sebenarnya layak jual di tingkat nasional maupun internasional," ujar dia.

Namun, menurut Otjim, kurangnya pengetahuan dan akses pelaku usaha terhadap pemasaran itu menyebabkan mereka hanya memasarkan di tingkat lokal.

"Seharusnya instansi terkait fokus pada akar masalah yang dihadapi pelaku UMKM. Sehingga penanganannya pun berkelanjutan," pungkas dia. (MUHAMMAD RIFQI/B-11)