BORNEONEWS, Muara Teweh - Pembangunan jembatan penyeberangan yang menghubungkan Kota Muara Teweh, Kelurahan Jingan, dan Kelurahan Jambu, akan membawa dampak negatif bagi 40 motoris feri penyeberangan.

Pasalnya, kehadiran jembatan yang membelah Sungai Barito itu akan membuat feri penyeberangan tidak lagi diminati masyarakat.

Kabid Perhubungan Sungai dan Penyeberangan Buana Pati mewakili Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Barito Utara Iwan Fikri mengatakan, pihaknya menyadari kehadiran jembatan penyeberangan akan berdampak terhadap penghasilan dari para motoris feri yang ada di Pelabuhan Pendopo.

Namun, ia menyebut Dinas Perhubungan akan berusaha mencarikan solusi yang tepat bagi para motoris feri.

Pihaknya, sambung dia, ke depan berencana mengoperasikan terminal AKAP. Sebagai penunjang, Dinas Perhubungan akan mangoperasikan pelabuhan bongkar muat barang.

“Untuk pengoperasian pelabuhan bongkar muat barang ini memang tidak sekarang, tapi rencana untuk dua sampai tiga tahun ke depan. Kalau pelabuhan bongkar muat ini jadi, mungkin para motoris feri bisa diarahkan ke sana,” ujar Buana Pati, Kamis (26/1/2017).

Ia juga memastikan, pembangunan jembatan penyeberangan tidak serta-merta mematikan usaha motoris feri. Sebab para motoris masih memiliki penumpang, seperti para pelajar yang berangkat dan pulang sekolah. Sebab tidak semua pelajar menggunakan sepeda motor.

"Untuk masalah solusi terkait nasib ke depan para motoris feri penyeberangan di Pelabuhan Pendopo ini, nantinya akan kita pikirkan bersama-sama seperti apa tepatnya. Sebab dampak ini memang tidak dapat dihindari,” katanya.(RAMADHANI/B-3)