BORNEONEWS, Kuala Pembuang - Jauhnya jarak antardesa dan desa dengan ibu kota kabupaten, membuat Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (BPMDes) Seruyan kesulitan melakukan upaya pembinaan, terutama bagi para aparatur pemerintahan desa.
Kepala BPMDes Seruyan Agus Suharto mengatakan, pihaknya sering memaparkan tentang kondisi geogafis antardesa di wilayah Seruyan setiap kali mengikuti rapat bimbingan teknis di luar daerah.
"Kondisi wilayah Kabupaten Seruyan sangat jauh berbeda jika dibandingankan dengan letak lokasi kewilayahan, tidak seperti perdesaan yang terdapat di Pulau Jawa. Jika di sana (Pulau Jawa), pembinaan langsung ke lapangan menjangkau beberapa desa. Berbeda halnya dengan Seruyan, untuk menjangkau desa yang satu ke desa lainnya yang berada di kecamatan hulu membutuhkan waktu dan jarak tempuh perjalanan yang cukup lama," kata Agus, Sabtu (28/1/2017).
Menurut dia, kondisi geografis yang tidak mendukung itulah yang membuat BPMDes tidak maksimal dalam memberikan pembinaan langsung ke semua desa.
"Setiap tahun dalam rangka monitoring dan evaluasi terhadap desa-desa di Seruyan, kita hanya bisa melakukan minimal sebanyak tiga hingga empat desa saja pada setiap kecamatan. Pembinaan dan evaluasi masih hanya dilakukan secara terbatas," ungkapnya.
Di samping persoalan geografis, BPMDes juga terkendala soal minimnya pendanaan untuk membiayai kegiatan pembinaan desa.
"Jika kita melakukan pembinaan, evaluasi, sekaligus monitoring perkembangan desa, yang jumlah seluruhnya sebanyak 97 desa, dengan kondisi jangkauan geografis yang sulit dan membutuhkan waktu perjalanan lama, pastinya jelas akan sangat menguras biaya atau pendanaan," sebutnya. (PARNEN/B-3)








