BORNEONEWS, Kuala Pembuang - Hingga saat ini, warga Desa Sungai Perlu, Kecamatan Seruyan Hilir, Kabupaten Seruyan, mengaku masih sangat kesulitan menikmati akses transportasi. Desa itu masuk dalam kategori desa tertinggal, meskipun lokasinya berada di selatan Kota Kuala Kuala Pembuang, berhadapan langsung dengan Laut Jawa.
Di desa itu, tak banyak ragam pekerjaan warga, selain mencari ikan di laut yang biasa dilakukan oleh kaum laki-laki. Begitu pun juga suasana pedesaan, tiap harinya sangat sepi dan jauh dari hiruk-pikuk keramaian.
"Untuk menuju lokasi desa yang dihuni sekitar 32 kepala keluarga itu, akses tranportasi utama hanya bisa mengandalkan jalur laut dengan menyusuri pinggiran pantai perairan Seruyan. Karena hingga kini, akses darat masih sulit untuk dilalui. Karena badan jalannya masih sulit dilalui," kata Sukmo (43), warga Desa Sungai Perlu di Kuala Pembuang, Minggu (29/1/2017).
Sukmo mengatakan, warga desanya kerap kesulitan memperoleh sembako karena tiadanya akses darat itu. "Kalau barang kebutuhan habis, seperti beras, misalnya, mau tidak mau kami harus berpergian dengan menggunakan perahu atau kelotok menuju Kuala Pembuang melalui jalur laut dengan mengitari pinggiran pantai," ujarnya.
Repotnya, lamanya perjalanan menggunakan perahu kelotok menuju Kuala Pembuang mencapai 6 jam perjalanan. "Namun, jika menggunakan speed boat, hanya sekitar 3,5 jam saja," terangnya.
Jika kondisi cuaca di laut sedang ribut, dan gelombang tinggi, mereka harus menahan diri untuk tidak bepergian. "Kalau sudah begitu ada warga yang kehabisan stok sembako, terpaksa harus mengutang barang kepada warga lainnya. Sambil menunggu ombak dan gelombang laut tenang," ungkapnya.
Sementara ini, perjalanan darat ke Kuala Pembuang hanya bisa ditempuh saat musim kemarau saja. Saat itu, jalanan yang harus melewati 10 sungai kecil tanpa jembatan itu kering. (PARNEN/B-10)








