BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Untuk mendapatkan perspektif atau pola pandang mengenai situasi di jalanan atau lingkungan sekitar dari sudut pandang sang fotografer, maka si fotografer tidak bisa mengarahkan seseorang untuk berpura-pura melakukan sesuatu agar didapatkan hasil yang dramatis.

"Misalnya kita meminta pengemis untuk melakukan pekerjaannya saat dia sedang beristirahat. walau demikian bukan berarti dalam street photography semua foto diambil secara candid atau sembunyi-sembunyi di tengah banyaknya orang," jelas Fadil salah seorang angota komunitas fotografi Citra kecubung Photography Community (CKPC) Pangkalan Bun.

Tetapi, lanjutnya, objek foto yang diambil dalam street photography bersifat sangat fleksibel mengikuti irama yang terjadi di jalanan.

"Street photography merupakan sebuah aliran fotografi yang merekam denyut kehidupan di jalanan. Entah itu jalanan di desa atau kota. Di jalanan pula kita dapat mendapatkan apa yang dikatakan sebagai foto jurnalistik," jelasnya.

ia mencontohkan, bila terjadi sebuah peristiwa kebakaran atau kecelakaan yang terjadi di sebuah gedung atau pasar.

"Tentunya akan terjadi tumpang tindih persepsi. Apakah foto tersebut dikategorikan sebagai foto jurnalistik atau street photography? Namun, pengkategorian foto tersebut kembali lagi pada si fotografer, mau dikategorikan sebagai apa foto yang dipotretnya itu," jelasnya. (WAHYU KRIDA/B-2)