BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Isu kesehatan yang menghinggapi minyak sawit olahan, menjadi perhatian serius industri minyak sawit Malaysia. Untuk itu, produsen sawit terbesar kedua dunia itu siap menghilangkan kontaminan di minyak sawit olahan.
Meski kontaminan juga ada di semua jenis minyak nabati selain sawit dan dampaknya terhadap kesehatan belum terbukti, tapi kian gencarnya kampanye negatif terhadap produk minyak sawit, membuat Malaysia tak mau tinggal diam.
CEO Malaysian Palm Oil Council (MPOC) Dr Kalyana Sundram mengatakan berbagai langkah telah dilakukan untuk memonitor dan mengurangi kandungan kontaminan di dalam minyak sawit olahan.
“Langkah ini menyusul laporan European Food Safety Authority (EFSA) yang menyebutkan tingginya kandungan 3-monochloropropanediol (3-MCPD) dan glycidyl fatty acid esters (GE) di dalam minyak sawit dibandingkan dengan minyak nabati lain. Kontaminan ini diyakini bersifat karsinogenik yang dapat memicu kanker," kata Kalyana seperti dilansir Bernama akhir pekan ini.
“Kontaminan ini juga ditemukan pada minyak zaitun, minyak kedelai, minyak kanola, minyak bunga matahari dan juga minyak sawit. Hal ini memicu evaluasi jangka panjang tak hanya di Eropa, tapi juga di laboratorium milik Malaysian Palm Oil Board (MPOB),” tegasnya.
Ia mengatakan 3-MCPD dan GE tidak ditemukan di dalam minyak sawit mentah, tapi ketika minyak sawit dipanaskan di atas suhu 200 derajat, senyawa itu muncul. Proses pemanasan ini jamak dilakukan di industri pengolahan makanan dan minuman.
“Namun, dalam waktu dekat, minyak sawit yang diolah di Malaysia akan bebas dari kontaminan ini,” kata kalyana, mengacu pada laporan media yang menyebutkan selai Nutella mengandung senyawa pemicu kanker yang berasal dari minyak sawit.
Kalyana mengatakan industri minyak sawit sudah aktif bekerjasama dengan FEDIOL, yaitu asosiasi industri makanan dan minyak nabati Eropa, dalam berupaya menekan kadar kontaminan di dalam semua jenis lemak dan minyak nabati. (NEDELYA RAMADHANI/m)








