BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Minyak sawit diketahui memiliki kandungan lemak jenuh alami dan juga lemak tak jenuh, selain juga kolesterol jahat (LDL) dan kolesterol baik (HDL) dalam jumlah seimbang.

Selama ini banyak masyarakat yang kurang mendapatkan pencerahan mengenai keterkaitan lemak jenuh dengan penyakit jantung koroner. Untuk menjelaskan hal ini, Dr Rajiv Chowdhury, Senior Research Associate in Global Cardiovascular Health di University of Cambridge, Inggris, mencoba memberikan pencerahan.

Seperti dilansir MPOC, Dr Rajiv memaparkan beberapa temuan dalam sebuah studi yang mengindikasikan bahwa seluruh jenis lemak jenuh memiliki peran yang tidak sama saat dikaitkan dengan penyakit jantung koroner (CHD).

Dalam studi yang diterbitkan di Annals of Internal Medicine, ia menyatakan bahwa tim peneliti yang dipimpinnya menyelidiki besarnya kadar konsumsi asam lemak atau komposisi asam lemak yang bersirkulasi dikaitkan dengan kemungkinan risiko CHD di masa mendatang.

Berdasarkan analisis, ia menyimpulkan sejumlah estimasi dari berbagai studi observasional yang mengukur ‘total’ asam lemak dari asupan makanan; kemudian studi biomarker observasional yang memantau subtipe asam lemak 'individual’; dan beragam uji coba acak terhadap suplementasi asam lemak. Secara bersama-sama, kajian kuantitatif itu menggabungkan data dari 72 studie yang mencakup lebih dari 600.000 partisipan dari sekitar 20 negara.

Pertama, Dr Rajiv mempertimbangkan hasil dari asupan asam lemak dari 32 studi prospektif (mencakup 512.420 partisipan). Dari situ tak ditemukan keterkaitan asam lemak jenuh, lemak jenuh tunggal (monounsaturated) dan asam lemak jenuh ganda (polyunsaturated) omega-6 dengan CHD. Dari situ juga diketahui bahwa konsumsi lemak jenuh ganda omega-3 menurunkan risiko CHD dan mengonsumsi asam lemak trans dikaitkan dengan tingginya risiko CHD.

Kedua, Dr Rajiv memfaktorkan hasil 17 studi biomarker prospektif tentang subtipe asam lemak (mencakup 25.721 partisipan). Dalam kajian itu ditemukan hubungan terbalik signifikan antara asam margarat dengan CHD, dan keterkaitan positif non-signifikan antara asam lemak palmitat dan stearat dengan CHD. Kemudian ditemukan beberapa bukti bahwa tingkat sirkulasi asam of eikosapentaenoat dan dokosaheksahenoat (dua tipe utama omega-3) dan asam arakidonat masing-masing dikaitkand engan rendahnya risiko CHD.

Ketiga, Dr Rajiv mengkaji 27 uji coba acak untuk suplementasi asam lemak atau penggantinya (mencakup 105.085 partisipan). Secara agregat, serangkaian uji coba itu tidak menunjukkan manfaat yang jelas setelah suplementasi dengan asam alpha-linolenic atau asam lemak omega-3, atau pengganti dari lemak jenuh dengan asam lemak jenuh ganda omega-6. (NEDELYA RAMADHANI/m)