BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Bukan hanya di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), bahkan di belahan bumi nusantara yang dikenal sebagai kawasan agraris yang subur, orang-orangan sawah sudah tidak asing lagi, media ini sebagai sarana untuk mengusir hama pengganggu tanaman seperti burung.
Orang-orangan sawah dapat dibentuk dengan berbagai rupa dengan menggunakan berbagai macam bahan, seperti menggunakan ilalang atau jerami yang dianyam sedemikian rupa dan membentuk sosok manusia lengkap dengan anggota tubuh seperti tangan, kepala dan dikenakan baju lengkap dengan topi caping bahkan, ada juga yang menggunakan boneka manekin lengkap dengan rambut yang menjuntai panjang.
Orang-orangan sawah ini diletakan di tengah areal persawahan, biasanya jumlahnya lebih dari satu, tergantung luasan areal lahan persawahan yang dimiliki petani.
Menurut Roby Santoso, salah seorang petani warga Pangkalan Bungur, bentuk dan rupa orang-orangan sawah ini tergantung selera petani tapi biasanya petani di Pangkalan Bungur membuat menggunakan ilalang atau jerami kering.
Namun Roby,membuat orang - orangan sawah menggunakan kayu yang ia bentuk menyerupai badan dan tangan manusia, pada bagian tangan ia lapisi dengan jerami kering, kemudian setelah membentuk badan dan tangan ia memakaikan baju ukuran besar ke orang-orangan sawah buatannya, tidak lupa pada bagian kepala ia menggunakan kepala boneka yang ia tutupi jerami dan dikenakan topi caping.
"Orang-orang sawah ini diletakkan di beberapa titik kemudian di pasang tali yang semua tali ini terpusat di huma (pondok kecil di tengah di sawah), pada tali tersebut di pasang alat yang bisa berbunyi saat tali ditarik sehingga akan menakuti burung," terang Roby.
Bagi petani yang ingin cara praktis, cukup menggunakan kayu kecil, kayu tersebut diikat menyerupai badan dan tangan manusia kemudian di kenakan baju, kemudian orang-orangan sawah tersebut diikatkan di pucuk batang bambu kecil dan diletakan di tengah areal persawahan. Sehingga ketika tertiup angin kencang bambu tersebut akan bergoyang sehingga menyerupai manusia yang sedang berada di tengah areal persawahan sedang mengusir burung.
"Tergantung selera saja bagaimana bentuk dan rupa orang-orangan sawah," ujar Roby.
Ia membandingkan pada tahun lalu burung pipit sedikit sekali berbeda tahun ini mencapai ribuan, menurutnya burung pipit ini seperti siluman karena jika tidak musim tanam padi mereka tidak diketahui rimbanya, jika musim tanam padi mereka berkeliaran muncul dan menghabisi bulir padi yang sudah menguning. (KOKO SULISTYO/B-5)








