BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Malaysia tahun ini merayakan 100 tahun penanaman kelapa sawit secara komersial yang dimulai sejak 1917. Dalam periode itu, apa saja yang dilakukan Malaysia?

Menteri Perusahaan Perladangan dan Komoditi Datuk Seri Mah Siew Keong mengatakan selama seabad komersialisasi kelapa sawit, Malaysia berhasil menyelamatkan ratusan ribu petani sawit dari kemiskinan.

Seabad lalu, Henri Fauconnier membangun lahan perkebunan kelapa sawit komersial pertama di Malaysia, tepatnya di Tennamaram Estate, Selangor, menggantikan lahan perkebunan kopi yang dinilai kurang sukses.

Sejak itulah, kata Mah seperti dilansir The Star, penanaman kelapa sawit berhasil memangkas tingkat kemiskinan dari 50 persen jumlah penduduk Malaysia setelah negeri itu merdeka pada 1957 menjadi kurang dari lima persen pada saat ini.

“Ini menjadi bukti bahwa perkebunan sawit sebagai jembatan untuk mempersempit ketimpangan pendapatan antara penduduk perkotaan dengan pedesaan dan juga telah membantu memeratakan kemakmuran ke seluruh masyarakat Malaysia,” ucapnya.

Sekitar 40 persen area lahan sawit Malaysia dimiliki oleh petani kecil. Secara total, Mah mengatakan lebih dari sejuta orang bergantung pada perkebunan sawit skala kecil.

Dalam upaya meningkatkan produktivitas, Mah mendesak para petani sawit skala kecil melakukan peremajaan tanaman sawit.

“Dalam anggaran 2017, kami menyiapkan hibah senilai RM30 juta untuk petani kecil untuk melakukan penanaman kembali. Yang jika dirinci sekitar RM7.500 per hektare,” kata Mah.

Pemerintah Malaysia juga memberikan rabat (diskon) hingga 20 persen untuk membeli peralatan panen sawit agar para petani dapat meningkatkan produktivitas.

Selain itu, Mah juga mendesak para pemangku kepentingan, khususnya korporasi swasta, untuk mencari cara yang lebih baik untuk mengangkut kelapa sawit dari area perkebunan ke pabrik pengolahan. (NEDELYA RAMADHANI/m)