BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Dampak fenomena El Nino diperkirakan akan berlangsung hingga semester pertama 2017, dengan penurunan tajam produksi terjadi pada kuartal pertama di Malaysia dan antara kuartal kedua dan ketiga di Indonesia.
Perkiraan itu diungkapkan perusahaan konsultan perkebunan asal Malaysia, Ganling Sdn., seperti dikutip Bloomberg, Selasa (7/2/2017).
Harga minyak sawit melesat 25% tahun lalu setelah El Nino menghambat produksi kelapa sawit di Indonesia dan Malaysia. Produksi merosot 13% di Malaysia tahun lalu, sedangkan Indonesia mencatatkan penurunan tahunan pertama dalam hampir dua dasawarsa terakhir.
Menurut proyeksi Direktur Godrej International Ltd, Dorab Mistry, futures minyak sawit dapat menguat ke level RM3.300 per ton dalam jangka pendek.
Sementara stok sawit di Malaysia kemungkinan turun di bawah 1,5 juta ton pada akhir Januari. Pada perdagangan Senin (6/2/2017), futures minyak sawit bergerak terbatas di level RM3.056 per ton.
“Pasokan minyak sawit di pasar pada Februari akan lebih ketat. Jika ada kabar buruk di perkebunan kedelai dan biji-bijian lain, sawit akan terkena imbasnya. Artinya, harga minyak sawit akan melesat,” kata analis Sprint Exim, yang memprediksi harga minyak sawit akan merangkak ke level RM3.350 per ton bulan ini.
Meski banjir menerjang sebagian semenanjung Malaysia bulan lalu, dampaknya terhadap perkebunan sawit tidak separah kerusakan yang terjadi pada Desember 2014, menurut Voon Yee Ping, analis dari Kenanga Investment Bank Bhd.
Survei menyebutkan produksi minyak sawit Malaysia pada Januari masih 18% lebih tinggi ketimbang setahun sebelumnya.
Sinyal pertama bahwa produksi sawit Malaysia mulai membaik kemungkinan pada sekitar Maret dan memicu penurunan harga, kata Mistry, yang memprediksi harga minyak sawit akan turun menjadi RM2.500 pada Juni atau Juli 2017. (NEDELYA RAMADHANI/m)








