BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Memasuki perdagangan medio pekan ini, muncul tanda-tanda positif bagi harga minyak sawit untuk menguat. Selain sentimen positif pasar komoditas global, faktor nilai tukar juga ikut berperan.
Futures minyak sawit untuk kontrak April, 1FCPOc3, di Bursa Malaysia Derivatives Exchange menguat tipis 0,1 persen menjadi 3.071 ringgit ($692,45) per ton pada penutupan sesi pertama perdagangan Selasa (7/2/2017).
Sejak awal perdagangan, harga minyak sawit langsung bergerak menguat merespons apiknya kinerja di bursa global dan juga berkat pembelian teknikal setelah harga bergerak di atas level tertinggi pekan lalu di 3.085 ringgit, kata pelaku pasar dari Kuala Lumpur, seperti dilansir Reuters.
Meski terjadi penurunan tipis di Dalian Commodities Exchange akibat aksi profit taking, tapi melemahnya ringgit Malaysia mampu meredam sentimen negatif tersebut. Ringgit turun 0,16 persen menjadi 4,4340 per dolar AS pada awal perdagangan.
Tren penguatan dolar ternyata berlanjut hingga Rabu ini (8/2/2017). Kurs dolar AS menguat terhadap sebagian besar mata uang utama lainnya pada Selasa (Rabu pagi WIB), didorong oleh pembelian teknikal dan ketidakpastian politik di Eropa menjelang pemilihan umum.
Para analis mengatakan dolar diuntungkan dari meningkatnya ketidakpastian politik menjelang sejumlah pemilu penting di zona euro dan pembelian oleh pencari harga murah sekali (bargain hunters).
Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, naik 0,37 persen menjadi 100,280 pada akhir perdagangan Selasa.
Melemahnya ringgit akan membuat harga minyak sawit lebih menarik bagi pelaku pasar yang memegang mata uang asing. (NEDELYA RAMADHANI/m)








