BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pelaku pasar saat ini tengah menantikan data produksi dan stok sawit Malaysia yang akan dirilis akhir pekan ini. Berdasarkan estimasi, penurunan produksi akan lebih besar dari perkiraan.

Menurut pelaku pasar dari Kuala Lumpur, seperti dilansir The Star, Kamis (9/2/2017), produksi sawit Malaysia pada Januari diperkirakan turun 13%. Angka itu lebih besar ketimbang proyeksi pasar yang memasang angka penurunan sebesar 9% hingga 10%.

"Kondisi ini dapat memicu penurunan stok sawit lebih jauh," katanya.

Seorang pelaku pasar lainnya mengatakan sentimen pasar sedang positif mengantisipasi data penurunan produksi. "Pasar berekspektasi produksi akan turun sekitar 10%, dan ini tentu akan memacu harga lebih tinggi," ucapnya.

Namun, pelemahan dolar terhadap sebagian mata uang utama dunia pada perdagangan di New York semalam, dapat menahan laju penguatan harga minyak sawit.

Futures minyak sawit untuk kontrak April, 1FCPOc3, di Bursa Malaysia Derivatives Exchange menanjak 1,2 persen ke level 3.119 ringgit ($702,79) per ton pada sesi pertama perdagangan Rabu. Harga kontrak itu sempat menguat menuju 3.123 ringgit pada awal perdagangan, yang merupakan level tertinggi sejak 25 Januari.

Untuk stok sawit Malaysia diperkirakan turun ke bawah level 1,5 juta ton pada akhir Januari.

Sementara itu, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Joko Supriyono beberapa waktu lalu mengatakan penurunan produksi sawit Indonesia tahun lalu tidak separah yang dikhawatirkan. Para pengusaha sebelumnya memprediksi produksi minyak sawit 2016 anjlok 15% hingga 30%.

Meski El Nino melanda Indonesia pada 2015, menurut Joko, dampaknya masih terjadi hingga tahun lalu. Terbukti, produksi minyak sawit nasional terkoreksi menjadi 34,5 juta ton, yakni 31,5 juta ton minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dan 3 juta ton minyak kernel atau palm kernel oil (PKO).

"Berdasarkan data yang diolah GAPKI, produksi CPO tahun lalu hanya mampu mencapai 31,5 juta ton dan PKO 3 juta ton. Total produksi minyak sawit Indonesia tahun lalu sebesar 34,5 juta ton, pada 2015 sebesar 35,5 juta ton, yang terdiri 32,5 juta ton CPO dan PKO 3 juta ton," papar dia. (NEDELYA RAMADHANI/m)