BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Di tengah penantian pelaku pasar atas laporan kinerja ekspor sawit dan stok sawit Malaysia, sentimen positif sedang memayungi pasar menjelang penutupan perdagangan pekan ini.

Salah satu sentimen positif bagi penguatan harga minyak sawit adalah menguatnya kurs dolar AS terhadap sebagian besar mata uang utama pada Kamis (Jumat pagi WIB), menyusul kabar bahwa Presiden AS Donald Trump akan merilis rencana pajak komprehensif dalam beberapa pekan mendatang.

Trump mengatakan dalam pertemuan dengan para eksekutif maskapai penerbangan AS pada Kamis bahwa ia akan membuat pengumuman besar tentang rencana pajaknya selama dua sampai tiga pekan ke depan.

Indeks dolar, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, naik 0,32 persen menjadi 100,600 pada akhir perdagangan Kamis.

Pada akhir perdagangan New York, euro turun menjadi 1,0661 dolar dari 1,0688 dolar pada sesi sebelumnya, dan poundsterling Inggris turun menjadi 1,2501 dolar dari 1,2530 dolar AS di sesi sebelumnya. Dolar Australia turun menjadi 0,7629 dolar dari 0,7637 dolar.

Terhadap yen Jepang, dolar AS berada di level 113,20 yen, lebih tinggi dari 112,06 yen pada sesi sebelumnya. Dolar naik ke 1,0011 franc Swiss dari 0,9953 franc Swiss, dan turun tipis menjadi 1,3136 dolar Kanada dari 1,3158 dolar Kanada.

Pelaku pasar di Kuala Lumpur, seperti dikutip Reuters, Jumat (10/2/2017), mengatakan dengan melemahnya ringgit Malaysia terhadap dolar AS menjadi faktor penopang penguatan harga minyak sawit.

Minyak sawit yang diperdagangkan dengan mata uang ringgit, menurut dia, akan lebih murah bagi pemegang mata uang selain ringgit, sehingga dapat menambah gairah beli. (NEDELYA RAMADHANI/m)