BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Memasuki hari terakhir perdagangan pekan ini, para pelaku pasar di bursa komoditas Malaysia dihadapkan pada sejumlah sentimen yang rata-rata positif bagi pergerakan harga minyak sawit.
Selain penurunan proyeksi stok gandum, kedelai dan jagung oleh Departemen Pertanian AS, menguatnya kurs dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama dunia, Kamis (9/2/2017), dengan indeks dolar AS mencatat kenaikan sebesar 0,32 persen, juga dapat menjadi pemacu penguatan harga minyak sawit.
Sawit yang diperdagangkan dalam denominasi ringgit Malaysia, jelas diuntungkan dengan menguatnya dolar AS, karena harga komoditas ini akan lebih murah bagi pemegang mata uang asing, kata pelaku pasar di Kuala Lumpur, seperti dikutip Reuters, Jumat (10/2/2017).
Faktor lain yang tak kalah berpengaruh terhadap pergerakan harga komoditas global adalah harga minyak mentah dunia. Pada perdagangan Kamis (9/2), harga minyak mentah memasuki hari kedua berturut-turut mencatat penguatan.
Faktor pendukung kenaikan masih sama, yakni data yang menunjukkan penurunan cadangan bensin di AS karena tingginya permintaan.
Analis yang dikutip Marketwatch juga menyebutkan bahwa sentimen positif dari kesepakatan anggota OPEC dan non OPEC untuk memangkas produksi juga berperan dalam menunjang penguatan harga.
Di New York Mercantile Exchange, minyak mentah West Texas Intermediate untuk kontrak Maret naik 66 sen, atau 1,3%, menjadi $53 per barrel. Sedangkan minyak mentah Brent untuk kontrak April menguat 51 sen, atau 0,9%, menjadi $55,63 per barrel di ICE Futures exchange, London.
Sebelumnya, analis OCBC Bank yang berbasis di Singapura, Wellian Wiranto, memperkirakan harga minyak mentah dunia akan menguat hingga US$65 per barrel pada akhir 2017, ditopang pemangkasan produksi oleh negara anggota OPEC dan non-OPEC.
Menurut dia, menguatnya harga minyak mentah ini tampaknya juga akan mendongkrak harga komoditas lain, seperti gas alam cair dan minyak sawit.
“Menguatnya harga minyak mentah dan harga komoditas merupakan berkah bagi perekonomian Malaysia, karena negeri ini merupakan eksportir komoditas,” ujar Wellian seperti dikutip The Star, Kamis (9/2/2017).
Berbicara kepada wartawan terkait dengan Outlook Ekonomi 2017, Wellian mengatakan harga minyak berhasil menahan penurunannya dalam beberapa pekan terakhir setelah sejumlah anggota OPEC dan produsen besar lainnya mulai berkomitmen untuk memangkas produksi mulai Januari lalu.
"Dengan mulai pulihnya harga minyak dunia, maka harga komoditas lain akan mengikuti," ujarnya. (NEDELYA RAMADHANI/m)








