BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Menutup perdagangan pekan ini, harga minyak sawit mengakhiri rentetan penguatannya, Jumat (10/2/2017).

Meski banyak sentimen positif yang beredar di pasar, tapi data dari Malaysian Palm Oil Board (MPOB) yang memprediksi penurunan cadangan minyak sawit yang lebih rendah dari perkiraan, membuat sebagian besar pelaku pasar melepas kepemilikan mereka, kata seorang pelaku pasar di Kuala Lumpur, seperti dikutip Reuters.

Pada awal perdagangan, harga minyak sawit sempat menguat dan menyentuh level tertinggi dalam lebih dari dua pekan di tengah ekspektasi rendahnya stok sawit Malaysia. Tapi setelah data terbaru menunjukkan penurunan stok yang meleset dari perkiraan, aksi jual mulai terjadi.

Futures minyak sawit untuk kontrak April, 1FCPOc3, di Bursa Malaysia Derivatives Exchange ditutup turun 0,9 persen menjadi 3.071 ringgit ($691,36) per ton. Harga sempat menyentuh 3.135 ringgit, yang merupakan level tertinggi sejak 25 Januari.

Volume perdagangan tercatat sebesar 54.851 lot.

"Kami telah memperkirakan stok turun menjadi sekitar 1,45 juta ton. Tapi data MPOB menyebutkan turun menjadi 1,54 juta ton pada akhir Januari," kata pelaku pasar tersebut.

Sementara ekspor minyak sawit Malaysia tumbuh 1,2 persen menjadi 1,28 juta ton, dan produksi lebih rendah dari perkiraan akibat banjir dan berkurangnya hari panen karena libur Imlek. (NEDELYA RAMADHANI/m)