BORNEONEWS, Puruk Cahu - Salah satu kearifan lokal yang patut dilestarikan yakni Baarak atau mengantarkan mempelai laki-laki ke rumah mempelai perempuan saat acara perkawinan. Lantunan syair berbahasa Arab menjadi salah satu hal yang wajib dilakukan.
Menurut Dayan, salah seorang tokoh masyarakat di Desa Muara Untu Kecamatan Murung Kabupaten Murung Raya, ketika menyenandungkan syair berbahasa Arab harus diiringi dengan hentakan rebana yang dimainkan secara apik oleh sekelompok warga pengiring mempelai wanita.
"Sebagai masyarakat Suku Bakumpai yang mendiami hampir sepanjang DAS Barito di Kabupaten Murung Raya, nuansa lokal dan nuansa Islami tidak bisa dilepaskan dalam acara Baarak yang dalam prakteknya harus dilakukan oleh para lelaki ini," ungkap Dayan, Minggu (12/2/2017).
Menurut Dayan, pada acara Baarak ini ada beberapa titik pemberhentian para rombongan mempelai pria. Masing-masing titik pemberhentian tersebut dilakukan pembacaan syair berbahasa Arab dengan diiringi tabuhan rebana serta juga hentakan tari sederhana oleh masing-masing kelompok.
"Setelah berhenti di beberapa titik dan sampai depan rumah pempelai wanita, rombongan mempelai pria disambut oleh keluarga mempelai wanita dengan lantunan syalawat dan langsung dipersilakan masuk ke rumah," tambah Dayan. (SUPRIADI/B-2)








