BORNEONEWS, Palangka Raya – Anggota DPRD Kalteng, Asera menilai anggaran yang disetujui pusat sebesar RP20 miliar untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalteng tidak cukup. Pasalnya, luasan yang di-cover di provinsi yang luasnya satu setengah luas Pulau Jawa ditambah medannya yang sulit menambah tingkat kesulitan.
“Kalau hanya Rp20 miliar itu jauh dari cukup. Karena Kalteng ini super rawan terhadap kebakaran lahan. Alasannya, banyak lahan gambut dan hutan luar biasa luas. Sarana dan prasarana jauh dari mencukupi,” kata Asera, Senin (13/2/2017).
Dia menilai, berbagai kegiatan antisipasi, pelatihan, pengadaan sarana dan sebagainya pasti memerlukan dana tidak sedikit.
”Karena itu anggaran Rp 20 miliar harus jadi 5 kali lipat, diluar dari anggaran yang adad disetiap kabupaten/kota. Kalau anggaran tidak mendapat porsi yang layak dari pusat, ya pusat jangan marah dengan pemerintah di Kalteng. Artinya pemerintah pusat harus buka mata, kenapa? Karena anggaran di Kalteng ini sedikit akibat banyak pengurangan,”tandasnya.
Diketahui, dalam satu pekan belakangan ini titik panas (hotspot) di Kalteng mulai meningkat. Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Tjilik Riwut Palangka Raya mencatat sudah ada hotspot di Kalteng terpantau 11 titik. (ROZIQIN/B-6)








