BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pada perdagangan sesi pertama Selasa (14/2/2017), ringgit dibuka stagnan terhadap dolar AS seiring dengan minimnya sentimen di pasar menjelang pengumuman sukubunga Federal Reserve (Fed).
Di awal perdagangan, ringgit diperdagangkan di level 4,4470/4,520 per dolar AS, dibandingkan dengan penutupan Senin di level 4,4470/4,500.
Itu artinya, harga minyak sawit yang berdenominasi ringgit, diperkirakan tidak akan bergerak jauh dari level penutupan perdagangan Senin yang berada di level 3.036 ringgit per ton, kata pelaku pasar di Kuala Lumpur, seperti dilansir Reuters.
Dibandingkan dengan sejumlah mata uang dunia, ringgit diperdagangkan melemah, kecuali terhadap euro, yang menguat menjadi 4,7134/7191 dari 4,7298/7339 pada sesi sebelumnya.
Dengan tidak banyaknya sentimen kuat di pasar yang mampu mengembalikan harga minyak sawit ke jalur positif, kemungkinan harga komoditas ini masih akan melemah dengan mengacu pada estimasi peningkatan produksi sawit Malaysia pada Februari. Ditambah lagi dengan melemahnya kinerja komoditas pesaing sawit di pasar komoditas global.
harga minyak sawit sendiri sempat menembus level support 3.089 ringgit pada perdagangan kemarin, sehingga membuka peluang harga akan melemah hingga ke level 3.014 ringgit, kata analis komoditas dan energi Reuters, Wang Tao. (NEDELYA RAMADHANI/m)








