BORNEONEWS, Kuala Pembuang - Bupati Sudarsono mengungkapkan, produksi hasil hutan di Kabupaten Seruyan mencapai sekitar 900 ribu meter kubik per tahun dari. Volume itu berasal dari sejumlah perusahaan HPH.
Namun, fakta yang didapat di lapangan, warga desa di sekitar lokasi dan dalam kawasan hutan hingga saat ini masih miskin.
"Ini yang fakta yang sangat terbalik dengan yang didapati di lapangan. Bahwa, hampir 1 juta meter kubik kayu dari hasil hutan di Seruyan, tetap saja banyak warga desa yang masih miskin," kata Bupati di Kuala Pembuang, Rabu (15/2/2017).
Padahal menurutnya, kekayaan alam yang dimiliki Kabupaten Seruyan berupa kawasan hutan belantara sangatlah besar. Sayangnya, manfaat dari keberadaan hutan itu tidak memberikan dampak berarti bagi warga desa di sekitarnya.
"Warga desa kita di sana tidak bisa mendapatkan apa-apa. Jumlah serapan tenaga kerja lokal di sana pun sangat minim. Kita cuma kaya dari segi sumber daya alam terkait hasil hutan, namun miskin dari segi perolehan manfaat oleh warga desa," ungkap Sudarsono.
Tidak hanya bagi warga desa, kontribusi untuk daerah pun minim. Hal itu bisa dilihat dari aktivitas pengangkutan kayu dari lokasi asal perusahaan. Di mana alur pengangkutan sama sekali tidak ada yang melintasi Sungai Seruyan. Melainkan diangkut melalui Kabupaten Lamandau, Kotawaringin Timur, hingga Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat. (PARNEN/B-3)







