BORNEONEWS, Kuala Pembuang - Bupati Seruyan Sudarsono mengaku dirinya pernah disuguhi tontonan menarik oleh warga desa di salah satu kecamatan hulu bagian utara. Hal itu terjadi saat dirinya berkunjung sekaligus meninjau kondisi warga desa di sana yang masih tertinggal.

"Sebulan yang lalu saya kunjungan ke suatu desa. Di mana saya lihat ada warga yang dengan nekat membakar lahan miliknya untuk dijadikan lahan pertanian. Ada sebagian lahan yang oleh warga tidak berani dibakar. Lahan yang tidak dibakar itu tetap mereka tanami dalam kondisi terpaksa. Sekarang pada lahan yang dimaksud itu, sudah tumbuh tanaman padinya. Dan itu tidak terlalu luas. Begitu api lahan padam, asapnya juga turut hilang. Sebab bukan pada areal lahan gambut," kata Sudarsono, Selasa (14/2/2017).

Berkenaan dengan aksi bakar lahan yang dipertontonkan warga tersebut, Bupati menyebut hal itu merupakan suatu persoalan yang harus segera dicarikan solusi oleh Pemkab Seruyan.

"Saya sadar betul, pembakaran lahan sekarang sudah merupakan persoalan negara. Namun di sini saya akui, pemerintah daerah sampai hari ini masih belum mendapat solusi berarti untuk mencegah pembakaran lahan itu. Terlebih itu dilakukan warga desa sudah secara turun-temurun," ungkapnya.

Namun, yang menjadi persoalannya hingga saat ini, khususnya bagi petani ladang, mereka dilarang pemerintah untuk membakar lahan. Akibatnya, warga kesulitan membuka lahan pertanian. Padahal, bertani ladang sudah menjadi harapan buat penompang kehidupan mereka.

"Kasian. Kita serba salah dalam menanggapinya. Tentang adanya larangan membakar lahan itu, seperti sudah tidak memberikan mereka harapan untuk menyambung hidup dari profesi yang telah digeluti selama bertahun-tahun lamanya," ujar Sudarsono.

Terhadap kondisi ini, Bupati berharap ada solusi yang tepat bagi warga desa di Seruyan agar ke depannya mereka tidak lagi membakar hutan dan lahan untuk berladang. (PARNEN/B-3)