BORNEONEWS, Kuala Pembuang - Kawasan lahan pertanian padi di Beriut, Desa Persil Raya, Kecamatan Seruyan Hilir, dinilai petani setempat membutuhkan penambahan bangunan pintu air sebagai saluran irigasi permukaan untuk mengatasi kekeringan saat musim kemarau.
"Beberapa waktu lalu sawah kami sempat mengalami kekeringan karena tidak ada hujan selama beberapa hari. Sementara pemanfaatan bangunan pintu air yang terdapat di sini tidak optimal, karena banyak luasan lahan yang harus dialirkan airnya ke sawah," kata Sario, petani daerah Beriut, Jumat (17/2/2017).
Untuk mengatasi lahan selama mengalami kekeringan itu, dibutuhkan penambahan bangunan pintu air untuk irigasi permukaan. Di mana, jelas Sario, irigasi permukaan itu adalah pengaliran air di atas permukaan dengan ketinggian air sekitar 10-15 cm di atas permukaan tanah.
"Irigasi itu sistem kerja penyerapan air secara langsung melalui sungai dengan melewati bangunan pintu air. Selanjutnya dari pintu air, air irigasi akan dialirkan melalui proses gravitasi melalui saluran hingga sampai ke lahan pertanian. Maksud proses gravitasi itu, posisi tanah yang tinggi akan mendapatkan air lebih dulu," jelas Sario.
Sejauh ini, lanjut dia, untuk saluran air pada lahan pertaniannya, penyaluran air lebih mengandalkan kiriman air dari lokasi kawasan pertanian di Mahang.
"Kalau di Mahang airnya menggenang, maka di Beriut sini kering. Itu disebabkan karena posisi permukaan atau ketinggian lahan pertanian antara Mahang dan Beriut ini berbeda," ungkapnya. (PARNEN/B-5)








