BORNEONEWS, Kuala Pembuang - Di tengah melimpahnya perolehan hasil padi yang dipanen petani di Seruyan, hingga saat ini belum ditunjang dengan akses pemasaran yang memadai. Sehingga membuat para petani mengaku sering merugi. Tak ada pilihan selain tetap harus tetap dijual, meskipun dengan harga yang sangat murah.

Seperti yang dialami Sario (60), petani padi daerah Beriut, Kecamatan Seruyan Hilir. Sario mengaku, terpaksa menjual sebagian besar padinya cuma dengan harga Rp4.500 per kilogram (Kg).

Harga segitu, dinilainya, terlalu murah. Hampir tidak sebanding dengan besaran biaya pengolahan lahan, penanaman, perawatan hingga masuki masa panen.

"Ya mau bagaimana lagi. Kalau tetap milih nggak dijual, kita tak dapat uang. Baik buat biaya bertani lagi ataupun untuk kebutuhan rumah," kata Sario, petani padi asal Kebumen, Jawa Tengah, Jumat (17/2/2017).

Tapi oleh Sario, pembeli padinya tak mau disebut sebagai tengkulak. Karena saat penjualan dia yang menyambangi warga untuk menawarkan padinya dengan harapan warga berminat untuk membeli.

"Kalau yang namanya tengkulak, biasanya mereka datang sendiri ke kita. Nah, ini saya yang mendatangi untuk menawarkan. Karena saya yang butuh uang," ujarnya.

Dia hanya berharap, ada upaya nyata dari pemerintah daerah untuk membantu petani seperti dirinya dalam memasarkan hasil panen panen padi tersebut.

"Kalau tersedia akses pemasaran dengan harga jual yang pantas, itu rencana harga murah bisa ditekan. Paling tidak petani hasil lebih pendapatan," ungkapnya. (PARNEN/B-5)