BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pada perdagangan Kamis (16/2/2017), harga minyak sawit mengalami tekanan hebat sehingga merosot tajam ke level terendah dalam hampir tiga bulan terakhir. Apa penyebabnya?

Pelaku pasar di Kuala Lumpur, seperti dikutip Reuters, mengatakan tekanan yang dialami harga minyak sawit adalah ekspektasi meningkatnya produksi di Malaysia dan sentimen negatif dari melemahnya harga minyak nabati pesaing sawit di pasar komoditas global.

Futures minyak sawit untuk kontrak Mei, 1FCPOc3, di Bursa Malaysia Derivatives Exchange rontok 1,3 persen menjadi 2.929 ringgit ($658,05) per ton pada akhir perdagangan Kamis. Bahkan pada sesi pertama perdagangan Kamis, harga sempat anjlok hingga ke 2.925 ringgit, yang merupakan level terendah sejak 22 November 2016.

Untuk volume perdagangan tercatat sebanyak 70.395 lot.

Berdasarkan data terbaru, produksi minyak sawit Malaysia turun 13,4 persen selama Januari, yang merupakan penurunan terdalam selama setahun. Kemudian pada Februari, produksi meningkat seiring dengan meredanya dampak El Nino.

Untuk minyak nabati lain, futures minyak kedelai kontrak Maret, BOH7, di Chicago Board of Trade turun 0,5 persen, sedangkan minyak kedelai kontrak Mei di Dalian Commodity Exchange, DBYcv1, melemah 0,6 persen. Olein sawit kontrak Mei di Dalian, DCPcv1, merosot 1 persen. (NEDELYA RAMADHANI/m)