BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Memasuki perdagangan akhir pekan, pasar komoditas sawit tengah dinaungi sentimen negatif dari pelemahan harga minyak nabati global dan juga ekspektasi peningkatan produksi.

Faktor ini diperkirakan akan menjadi penahan pergerakan harga minyak sawit pada perdagangan Jumat (17/2/2017), kata pelaku pasar dari Kuala Lumpur seperti dikutip Reuters.

Futures minyak sawit untuk kontrak Mei, 1FCPOc3, di Bursa Malaysia Derivatives Exchange rontok 1,3 persen menjadi 2.929 ringgit ($658,05) per ton pada akhir perdagangan Kamis (16/2/2017). Bahkan pada sesi pertama perdagangan Kamis, harga sempat anjlok hingga ke 2.925 ringgit, yang merupakan level terendah sejak 22 November 2016.

Di pasar global, harga gandum dan jagung di Chicago Board of Trade ditutup melemah akibat aksi ambil untung setelah sempat menguat ke level tertinggi dalam beberapa sesi perdagangan terakhir.

Futures minyak kedelai kontrak Maret, BOH7, di Chicago Board of Trade turun 0,5 persen, sedangkan minyak kedelai kontrak Mei di Dalian Commodity Exchange, DBYcv1, melemah 0,6 persen. Olein sawit kontrak Mei di Dalian, DCPcv1, merosot 1 persen.

Sedangkan faktor penggerak lain adalah harga minyak yang ditutup bervariasi, Kamis, meski kemudian menguat pada perdagangan elektronik.

Harga minyak mentah di New York, Kamis, ditutup naik tipis karena spekulasi bahwa OPEC akan memperpanjang kesepakatan pemangkasan produksi.

Minyak mentah West Texas Intermediate untuk kontrak Maret menguat 25 sen, atau 0,5%, menjadi $53,36 per barrel di New York Mercantile Exchange setelah sempat turun hingga ke level $52,68.

Sedangkan harga minyak mentah Brent di ICE Futures exchange, London, ditutup melemah setelah sempat berada di area positif sebelum penutupan.

Minyak Brent untuk kontrak April turun 32 sen, atau 0,6%, menjadi $55,65 per barrel.

Kemudian dalam perdagangan elektronik setelah penutupan, harga minyak mentah bergerak menguat lagi menyusul laporan Reuters yang menyebutkan bahwa anggota OPEC dapat melanjutkan kesepakatan pemangkasan produksi hingga Mei dengan negara non-OPEC, dan bisa memotong produksi lebih besar lagi jika cadangan minyak dunia tidak turun ke level yang ditargetkan. (NEDELYA RAMADHANI/m)